Adat Pernikahan Melayu Jambi: Tahapan dan Maknanya

Penulis: Redaksi  •  Jumat, 11 September 2026 | 11:01:31 WIB
Prosesi adat pernikahan Melayu Jambi melibatkan perundingan keluarga dan tokoh adat.

JAMBI - Adat pernikahan melayu jambi bukan sekadar rangkaian acara sebelum dan sesudah akad.

Di dalamnya terdapat perundingan keluarga, penghormatan kepada orang tua dan tokoh adat, penggunaan tepak sirih, penyampaian seloko, penyerahan adat dan lembago, hingga prosesi penyambutan pengantin.

Karena setiap daerah di Jambi dapat memiliki variasi, adat pernikahan melayu jambi lebih tepat dipahami sebagai rangkaian tradisi yang mempunyai pola umum, tetapi dapat disesuaikan dengan wilayah, lembaga adat, kemampuan keluarga, serta perkembangan zaman.

Dalam tradisi Melayu Jambi, perkawinan memiliki dimensi sosial yang lebih luas daripada hubungan dua orang.

Penelitian mengenai lembaga adat dalam pernikahan Melayu Jambi menunjukkan adanya berbagai tahapan yang mengatur proses perkawinan, mulai dari masa perkenalan, persiapan, pertunangan, penyerahan adat dan lembago, perkawinan, hingga kegiatan kenduri.

Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa lembaga adat mempunyai posisi penting dalam menjaga pelaksanaan tradisi di tengah Masyarakat.

Karena itu, pernikahan tradisional biasanya melibatkan orang tua, keluarga besar, nenek mamak, tuo-tuo tengganai, serta tokoh adat.

Pihak yang biasanya memiliki peran

Keluarga calon pengantin laki-laki.

Keluarga calon pengantin perempuan.

Nenek mamak.

Tuo tengganai.

Tokoh adat.

Tokoh agama.

Pembawa seloko atau orang yang memahami tata bahasa adat.

Masyarakat yang terlibat dalam kenduri.

Keterlibatan banyak pihak membuat pernikahan menjadi ruang untuk mempererat hubungan antarkeluarga.

Tahap Awal: Berusik Sirih Bergurau Pinang

Perjalanan menuju pernikahan dimulai sebelum lamaran resmi.

Dalam beberapa kajian mengenai tradisi Melayu Jambi, tahap awal dikenal dengan ungkapan seperti berusik sirih bergurau pinang.

Tahapan tersebut menjadi ruang perkenalan dan penjajakan sebelum pembicaraan pernikahan dilanjutkan secara lebih formal.

Kajian mengenai hantaran adat Melayu Jambi juga menempatkan perkenalan ini sebagai bagian awal dari rangkaian prosesi.

Sirih dan pinang tidak sekadar menjadi benda yang dibawa dalam pertemuan.

Keduanya berfungsi sebagai simbol pembuka pembicaraan, penghormatan, dan kesopanan. Dalam budaya Melayu, cara menyampaikan maksud sama pentingnya dengan isi pembicaraan.

Nilai yang terlihat pada tahap awal

Kesopanan dalam menyampaikan maksud.

Penghormatan kepada keluarga.

Keterlibatan orang tua.

Keterbukaan dalam membicarakan rencana.

Penjagaan hubungan antarkeluarga.

Tahap ini memperlihatkan bahwa pernikahan dipandang sebagai hubungan sosial yang perlu dipersiapkan dengan baik.

Tegak Batuik Duduk Bertanyo

Setelah hubungan mulai mendapatkan perhatian keluarga, pembicaraan bergerak menuju tahap yang lebih serius.

Istilah tegak batuik duduk bertanyo menggambarkan proses bertanya dan berunding mengenai calon pasangan serta rencana pernikahan.

Penelitian mengenai tradisi peminangan Melayu Kota Jambi mencatat praktik duduk batuik tegak batanyo sebagai salah satu bagian penting dalam proses khitbah.

Pembicaraan dapat menyentuh latar belakang keluarga, kesiapan calon pengantin, hubungan antarkeluarga, dan berbagai hal yang dianggap penting menurut adat setempat.

Hal yang menjadi perhatian dalam perundingan

Status dan latar belakang keluarga.

Keseriusan calon pengantin.

Persetujuan keluarga.

Rencana waktu pernikahan.

Tata cara adat yang akan digunakan.

Kesanggupan memenuhi kebutuhan adat.

Bentuk hubungan antarkeluarga setelah pernikahan.

Tahapan ini memperlihatkan bahwa pernikahan bukan keputusan yang dilepaskan begitu saja dari keluarga.

Tepak Sirih dan Bahasa Adat

Salah satu benda yang kuat secara simbolis adalah tepak sirih.

Tepak sirih menjadi bagian dari berbagai prosesi Melayu Jambi, termasuk dalam proses peminangan.

Kajian mengenai khitbah masyarakat Melayu Kota Jambi mencatat keberadaan seloko, tepak sirih, mencicip sirih, dan meletak tando dalam rangkaian peminangan.

Sirih menjadi media penghormatan sekaligus bagian dari tata komunikasi adat.

Mengapa sirih begitu penting?

Menjadi tanda penghormatan kepada tamu.

Menandai pembukaan pembicaraan adat.

Membawa suasana pertemuan menjadi lebih resmi.

Menjadi bagian dari simbol penerimaan dan persaudaraan.

Menghubungkan prosesi pernikahan dengan tradisi Melayu yang lebih luas.

Dalam konteks ini, benda adat tidak berdiri sendiri. Maknanya muncul melalui tindakan dan bahasa yang mengiringinya.

Meletak Tando sebagai Penegasan Kesepakatan

Setelah pembicaraan mencapai kesepakatan, terdapat tahap yang dikenal sebagai meletak tando atau pertukaran tanda.

Penelitian tentang tradisi peminangan Melayu Kota Jambi mencatat meletak tando sebagai bagian dari praktik khitbah.

Kajian lain mengenai tahapan perkawinan adat Jambi juga menjelaskan pertunangan sebagai bagian dari rangkaian menuju perkawinan.

Tando dapat dipahami sebagai simbol bahwa pembicaraan telah memperoleh kesepakatan.

Fungsi simbolis tando

Menegaskan keseriusan hubungan.

Menjadi tanda kesepakatan keluarga.

Memperjelas status calon pasangan.

Menjadi penghubung antara masa penjajakan dan persiapan pernikahan.

Bentuk benda yang digunakan dapat berbeda menurut tradisi keluarga dan wilayah.

Ulur Antar Serah Terimo Adat dan Lembago

Bagian berikutnya membawa proses ke ranah yang lebih resmi.

Dalam sejumlah sumber, tahap ini disebut ulur antar serah terimo adat dan lembago atau berkaitan dengan istilah “mengisi adat menuang lembago”.

Penelitian etnosains Universitas Jambi menjelaskan bahwa proses hantaran meliputi penyerahan unsur adat dan lembago oleh pihak laki-laki kepada pihak perempuan.

Istilah tersebut tidak tepat dipahami sekadar sebagai “memberi barang”. Di baliknya terdapat pembicaraan mengenai tanggung jawab, penghormatan, serta hubungan kedua keluarga.

Isi hantaran dalam kajian tradisi

Sumber penelitian mencatat antara lain:

Tepak sirih atau perlengkapan sirih.

Cincin atau tanda pertunangan.

Pakaian perempuan.

Unsur adat berupa emas.

Unsur lembago berupa kebutuhan yang disepakati.

Berbagai bahan pangan dalam tradisi tertentu.

Namun, bentuk dan jumlah hantaran dapat berbeda. Tidak semua keluarga pada masa sekarang mempertahankan seluruh bentuk hantaran tradisional.

Akad Nikah: Titik Pengesahan Perkawinan

Setelah seluruh persiapan adat dilakukan, akad nikah menjadi inti pengesahan perkawinan.

Dalam tradisi Melayu Jambi yang telah mengalami akulturasi dengan Islam, akad memiliki kedudukan sangat penting.

Kajian mengenai budaya Melayu Jambi menjelaskan bahwa upacara adat berkembang berdampingan dengan ketentuan agama Islam, sementara pelaksanaan ijab kabul mengikuti ketentuan perkawinan Islam.

Dengan demikian, adat berfungsi mengatur dimensi sosial dan seremoni, sedangkan akad menjadi bagian utama pengesahan perkawinan menurut agama.

Bagian penting pada hari akad

Persiapan calon pengantin.

Kehadiran wali.

Kehadiran saksi.

Ijab kabul.

Pembacaan doa.

Nasihat atau penyampaian pesan.

Administrasi perkawinan sesuai ketentuan yang berlaku.

Adat tidak menggantikan akad, tetapi mengiringi perjalanan sosial menuju dan setelah akad.

Ulur Antar Serah Terimo Pengantin

Sesudah akad, prosesi dapat berlanjut pada pengantaran dan penyerahan pengantin.

Kajian mengenai tahapan perkawinan Melayu Jambi menyebut ulur antar serah terimo pengantin atau labuh lek sebagai salah satu bagian dari rangkaian adat.

Dalam tahap ini, pengantin laki-laki diantar oleh keluarga dan tokoh yang mendampinginya menuju kediaman atau tempat keluarga pengantin perempuan.

Prosesi ini membuat suasana pernikahan berubah menjadi lebih terbuka dan meriah.

Unsur yang dapat hadir

Rombongan pengantin.

Nenek mamak.

Tuo tengganai.

Pengiring.

Musik atau kompangan.

Pencak silat.

Seloko.

Penyambutan keluarga perempuan.

Kelengkapan acara dapat disesuaikan dengan kemampuan dan kesepakatan keluarga.

Kato Bejawab di Laman

Salah satu bagian yang menarik adalah komunikasi adat di halaman.

Ketika rombongan pengantin laki-laki sampai, pihak yang menyambut dapat melakukan dialog adat atau kato bejawab di laman.

Penelitian mengenai prosesi perkawinan Melayu Jambi mencatat adanya penyambutan melalui pencak silat dan dialog antara kedua pihak.

Di sinilah kemampuan berbahasa adat menjadi penting.

Ciri komunikasi adat

Menggunakan bahasa yang sopan.

Memakai ungkapan simbolik.

Tidak langsung menyampaikan maksud secara kasar.

Mengandung penghormatan kepada pihak yang datang.

Dapat diselingi pantun atau seloko.

Bahasa dalam prosesi tersebut membuat acara terasa hidup. Pernikahan bukan hanya terlihat dari pakaian dan dekorasi, tetapi terdengar melalui kata-kata yang diwariskan.

Buka Lanse dan Penyambutan Pengantin

Setelah rangkaian penyambutan berlangsung, terdapat prosesi yang dalam sejumlah sumber disebut buka lanse.

Penelitian tentang tradisi perkawinan Melayu Kota Jambi memasukkan buka lanse dalam tahapan setelah penyambutan pengantin dan prosesi di halaman.

Lanse dapat dipahami sebagai bagian dari tata ruang dan simbolik acara pengantin. Rangkaian ini menunjukkan bahwa setiap perpindahan posisi pengantin dalam upacara memiliki aturan tersendiri.

Makna yang dapat dibaca

Peralihan dari satu tahap kehidupan ke tahap berikutnya.

Pengakuan sosial terhadap pasangan.

Penghormatan kepada keluarga.

Penyatuan dua lingkungan keluarga.

Karena bentuk pelaksanaannya dapat berbeda menurut daerah, detail buka lanse sebaiknya mengikuti petunjuk pemangku adat setempat.

Pernikahan Melayu Jambi juga kaya dengan tradisi lisan.

Seloko menjadi bagian penting dalam komunikasi adat. Penelitian mengenai pernikahan Melayu Jambi menempatkan tradisi lisan tersebut sebagai bagian yang diwariskan dalam masyarakat.

Tunjuk ajar berfungsi menyampaikan pesan tentang bagaimana pasangan menjalani kehidupan setelah menikah.

Nilai yang biasanya ditekankan

Menghormati orang tua.

Menjaga hubungan dengan keluarga pasangan.

Bertanggung jawab dalam rumah tangga.

Menjaga sopan santun.

Menyelesaikan masalah melalui musyawarah.

Memelihara nama baik keluarga.

Pesan tersebut membuat pernikahan tidak berhenti pada pesta. Ada nasihat mengenai kehidupan panjang yang menunggu setelah hari perayaan selesai.

Penyuapan Nasi Sapat

Rangkaian adat juga mengenal prosesi makan atau penyuapan yang sarat simbol.

Beberapa sumber mengenai tahapan adat Melayu Jambi menyebut penyuapan nasi sapat sebagai bagian dari rangkaian setelah acara adat penuh.

Tradisi semacam ini dapat dibaca sebagai simbol kebersamaan, kasih sayang, dan harapan agar kehidupan rumah tangga berjalan dengan saling menguatkan.

Mengapa prosesi kecil seperti ini penting?

Karena dalam adat, tindakan sederhana dapat membawa pesan yang lebih besar. Menyuapkan makanan bukan hanya soal makanan, melainkan gambaran mengenai perhatian dan hubungan timbal balik dalam keluarga.

Nilai Islam dalam Adat Pernikahan Melayu Jambi

Hubungan antara adat dan Islam menjadi salah satu karakter penting dalam perkawinan Melayu Jambi.

Kajian mengenai budaya Melayu Jambi menjelaskan adanya akulturasi antara budaya Melayu dan Islam. Akad nikah menempati posisi sentral, sementara berbagai prosesi adat mengatur dimensi sosial dan seremoni.

Penelitian lain mengenai perspektif 'urf juga menyimpulkan bahwa tradisi perkawinan Melayu Jambi dapat dipahami sebagai adat yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariat sepanjang pelaksanaannya tidak menghalalkan yang haram atau sebaliknya.

Bentuk perpaduan tersebut terlihat melalui

Akad nikah.

Pembacaan doa.

Nasihat keagamaan.

Penghormatan kepada orang tua.

Musyawarah keluarga.

Seloko yang mengandung nasihat kehidupan.

Inilah yang membuat tradisi pernikahan Jambi mempunyai lapisan budaya dan keagamaan sekaligus.

Perubahan Adat di Masa Kini

Tradisi tidak selalu dilaksanakan dengan bentuk yang sama seperti masa lalu.

Penelitian tentang perkawinan Melayu Jambi menunjukkan adanya perubahan dan pengaruh budaya luar terhadap pelaksanaan upacara. Lembaga adat kemudian mempunyai peran penting dalam mempertahankan unsur yang dianggap bernilai. SStudocu

Perubahan dapat terjadi karena biaya, waktu, lokasi, jumlah tamu, pilihan dekorasi, atau keinginan pasangan.

Bagian yang dapat disederhanakan

Jumlah rombongan.

Durasi prosesi.

Bentuk hantaran.

Dekorasi.

Jumlah rangkaian seremoni.

Pertunjukan pendukung.

Namun, penyederhanaan sebaiknya tidak menghilangkan makna utama tanpa pembicaraan dengan keluarga dan tokoh adat.

Cara Menyiapkan Pernikahan Adat Melayu Jambi

Pernikahan adat membutuhkan persiapan lebih panjang dibandingkan acara resepsi biasa.

Tahap persiapan yang praktis

Tentukan wilayah atau tradisi adat yang akan dijadikan acuan.

Libatkan keluarga besar sejak awal.

Temui pemangku adat atau tokoh yang memahami prosesi.

Susun tahapan acara secara tertulis.

Tentukan siapa yang bertugas membawa tepak sirih.

Siapkan pembawa seloko atau pembicara adat.

Tentukan bentuk hantaran.

Bedakan acara akad dan acara adat jika waktunya terpisah.

Susun anggaran.

Pastikan seluruh prosesi sesuai kesepakatan keluarga.

Langkah tersebut mencegah acara berjalan sekadar mengikuti tren tanpa memahami urutan dan maknanya.

FAQ

Apa tahap awal dalam adat pernikahan Melayu Jambi?

Dalam sejumlah sumber, rangkaian dimulai dari masa perkenalan atau berusik sirih bergurau pinang, kemudian berlanjut ke pembicaraan yang lebih serius seperti tegak batuik duduk bertanyo.

Apa fungsi tepak sirih?

Tepak sirih menjadi perlengkapan simbolik dalam komunikasi adat dan peminangan, sekaligus membawa nilai penghormatan dan kesopanan.

Apa yang dimaksud meletak tando?

Meletak tando merupakan tanda kesepakatan atau pertunangan dalam sejumlah tradisi Melayu Jambi. Bentuk benda yang digunakan dapat berbeda menurut wilayah dan keluarga.

Apakah semua pernikahan Melayu Jambi harus menjalankan seluruh prosesi?

Tidak selalu. Tradisi dapat berbeda berdasarkan wilayah, lembaga adat, kondisi keluarga, serta kesepakatan pihak yang menikah. Penelitian di Muara Tembesi, misalnya, menunjukkan adanya tahapan adat yang khas di wilayah tersebut.

Apa peran seloko dalam pernikahan?

Seloko merupakan tradisi lisan yang digunakan untuk menyampaikan pesan, nasihat, penghormatan, dan nilai kehidupan dalam konteks adat.

Penutup

Di balik sirih, seloko, hantaran, dan iring-iringan pengantin terdapat satu pesan besar: pernikahan bukan hanya menyatukan dua hati, tetapi juga mempertemukan dua keluarga dalam sebuah ikatan sosial.

Karena itu, adat pernikahan melayu jambi tetap memiliki tempat penting ketika tradisi dipahami, bukan sekadar dipertontonkan.

Reporter: Redaksi
Back to top