JAMBI — Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi menyebut ketertarikan itu muncul setelah Indonesia menuntaskan pengujian B50. Pernyataan tersebut disampaikan dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi XII DPR, Selasa (8/9/2026).
"Jadi pertama kali Indonesia melakukan pengujian ini dan banyak yang mengikuti, bahkan sekarang menjadi ketertarikan negara-negara lain sekarang belajar ke kami. Jadi ada dari Jepang, dari Malaysia, dari Eropa sekarang datang belajar ke kami, Pak. Jadi ini merupakan tonggak sejarah bagi Indonesia untuk kita membuktikan kemandirian energi," ujar Eniya.
Menurut Eniya, program ini memangkas impor solar sekaligus menurunkan emisi gas rumah kaca sekitar 44,46 juta ton CO2. Dia juga mendorong peningkatan produksi FAME (Fatty Acid Methyl Ester) dari feedstock yang ada di industri dalam negeri.
"Sekaligus kami juga mendorong produksi FAME. Jadi meningkatkan feedstock yang ada di industri FAME kita, itu diperkirakan 16 sampai 18 juta kiloliter yang dimandatorikan di tahun ini hingga Desember," katanya.
Dari sisi ekonomi, B50 diperkirakan memberi penghematan hingga Rp 170 triliun pada 2026. Pengembangan industri biodiesel tahun yang sama disebut menyerap sekitar 2,1 juta tenaga kerja.
Eniya menjelaskan, sekitar 20 parameter dievaluasi sejak pengujian B40. Salah satu yang paling krusial adalah kandungan air, yang turun dari batas maksimal 320 ppm pada B40 menjadi 300 ppm pada B50.
Standar baru ini disebut lebih ketat dan lebih rinci dibanding sebelumnya, dengan tujuan membuat bahan bakar lebih aman bagi mesin kendaraan.
Kandungan monogliserida dalam FAME dipangkas dari maksimal 0,5% menjadi 0,47% massa. Dengan kadar yang lebih rendah, risiko pengendapan di filter bahan bakar berkurang.
"Monogliserit kandungan yang ada di FAME itu maksimum yang tadinya 0,5% menjadi 0,47% massa," ujarnya.
Stabilitas oksidasi B50 juga meningkat. Jika sebelumnya bahan bakar hanya bertahan 720 menit sebelum teroksidasi, kini ketahanannya mencapai 900 menit.
"Stabilan oksidasi, jadi ketahanan dari bahan bakar sendiri untuk tidak teroksidasi itu stabil. Dulunya 720 menit, sekarang menjadi lebih lama lagi. Jadi stabilitasnya meningkat menjadi 900 menit," jelasnya.
Standar B50 kini melengkapi diri dengan dua parameter yang sebelumnya belum diatur, yaitu temperatur distilasi dan cleanliness atau tingkat kebersihan bahan bakar.
"Ada tambahan dua parameter yang baru yaitu temperatur distilasi dan cleanliness," pungkas Eniya.
Bagi pemilik kendaraan diesel, sederet pengetatan ini jadi acuan utama sebelum B50 beredar luas di SPBU. Kandungan air dan monogliserida yang lebih terkendali adalah dua faktor yang paling menentukan apakah bahan bakar baru ini bersahabat dengan sistem injeksi modern.