Cara Memilih Masker untuk Abu Vulkanik Anak Krakatau yang Efektif Menurut Dokter

Penulis: Zulfahmi Rasyid  •  Selasa, 08 September 2026 | 10:06:02 WIB
Masker respirator direkomendasikan untuk melindungi diri dari paparan abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau.

JAMBI — Udara yang terasa berbeda, keluhan mata perih, hingga batuk-batuk mulai dirasakan banyak orang setelah erupsi Gunung Anak Krakatau. Abu vulkanik bukan debu biasa—partikelnya bisa mengiritasi saluran pernapasan, kulit, dan penglihatan, bahkan mengganggu hewan ternak yang sumber pakannya tertutup abu.

Karena itu, masker yang dipakai sehari-hari belum tentu cukup. Berikut panduan memilih dan menggunakan masker yang efektif menangkal abu vulkanik, serta cara memantau sebarannya dari rumah.

Dampak Abu Vulkanik pada Kesehatan Keluarga

Paparan abu vulkanik tidak hanya menyerang orang dewasa, tapi juga anak-anak yang sistem pernapasannya masih sensitif. Beberapa keluhan yang umum muncul antara lain batuk, iritasi hidung dan tenggorokan, penyakit yang menyerupai bronkitis, serta rasa tidak nyaman saat bernapas.

Selain sistem pernapasan, abu vulkanik juga berisiko menyebabkan iritasi pada mata dan kulit. Untuk hewan ternak, dampaknya tak kalah serius—hewan yang merumput bisa kesulitan mencari makan jika sumber pakannya tertutup lapisan abu.

Wilayah Terdampak dan Cara Cek Sebaran Abu Terbaru

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria, menyampaikan abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau telah menyebar ke lima provinsi. Wilayah tersebut meliputi Banten, sebagian Jawa Barat, DKI Jakarta, Lampung, dan Bengkulu.

Informasi ini merupakan gabungan dari data erupsi dan VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) PVMBG melalui Magma Indonesia, informasi VAAC (Volcanic Ash Advisory Centre) Darwin, serta analisa citra satelit Himawari-9 oleh BMKG.

Plt Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, menambahkan ada kemungkinan abu menyebar lebih jauh ke timur Pulau Jawa. "Untuk kemungkinan abu vulkanik mencapai Jawa Tengah dan Jawa Timur, secara meteorologis hal tersebut bergantung pada perubahan arah angin di berbagai lapisan atmosfer," ujarnya.

Cek Titik Terdampak Lewat HP Tanpa Instal Aplikasi

Bunda bisa memantau potensi sebaran abu di lokasi tempat tinggal melalui situs abu.cikoytew.my.id. Situs buatan Tri Purnomo Aji ini bisa diakses lewat browser Chrome, Safari, atau browser lain di HP, tablet, maupun desktop—tanpa perlu instalasi aplikasi tambahan.

Langkahnya mudah: buka situsnya, pilih gunung api yang ingin dipantau, lalu masukkan nama kota tempat tinggal atau gunakan fitur lokasi. Situs akan menampilkan apakah lokasi tersebut berpotensi terkena sebaran abu beserta arah pergerakannya.

Perlu diingat, arah sebaran abu bisa berubah mengikuti kondisi atmosfer, terutama arah dan kecepatan angin. Prediksi yang terlihat belum tentu akurat untuk beberapa jam kemudian, jadi pantau juga informasi resmi dari PVMBG/Badan Geologi, BMKG, BNPB, maupun pemerintah daerah.

Jenis Masker yang Efektif Menangkal Abu Vulkanik

Masker bedah biasa atau masker kain tidak cukup untuk menyaring partikel abu vulkanik yang sangat halus. Abu hasil erupsi gunung berbeda karakteristiknya dengan debu jalanan biasa, sehingga butuh masker dengan filtrasi lebih tinggi.

Masker yang direkomendasikan adalah tipe respirator yang dirancang menyaring partikel halus di udara. Pilih masker yang pas menutupi hidung dan mulut tanpa celah, karena abu bisa masuk lewat sela-sela masker yang longgar.

Pastikan masker terpasang dengan benar—kawat hidung ditekan mengikuti bentuk pangkal hidung, dan tali masker dikencangkan. Masker yang longgar sama saja dengan tidak memakai masker saat abu beterbangan.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika Bunda atau si kecil mengalami sesak napas, batuk yang tak kunjung reda, nyeri dada, atau iritasi mata yang parah setelah terpapar abu vulkanik, segera konsultasikan ke fasilitas kesehatan terdekat. Keluhan pernapasan pada anak-anak perlu ditangani lebih cepat karena saluran napasnya masih sempit dan lebih rentan mengalami penyempitan.

Melindungi keluarga dari abu vulkanik dimulai dari langkah kecil: memakai masker yang tepat, memantau sebaran abu secara berkala, dan membatasi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara buruk. Dengan persiapan yang benar, Bunda bisa menjaga si kecil tetap nyaman dan sehat di tengah kondisi yang tidak menentu ini.

Reporter: Zulfahmi Rasyid
Sumber: haibunda.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top