IHSG Dibuka Menguat Tipis di Tengah Ketidakpastian Global, Analis Ingatkan Potensi Koreksi ke Level 6.595

Penulis: Said Fauzi  •  Senin, 07 September 2026 | 13:21:31 WIB
IHSG dibuka menguat tipis ke level 6.652,09 pada perdagangan Senin pagi di tengah sentimen global yang masih diliputi ketidakpastian.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka menguat 15,61 poin atau 0,24 persen ke posisi 6.652,09 pada Senin pagi. Meski demikian, Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata mengingatkan indeks masih rentan mengalami koreksi lanjutan di tengah pelaku pasar yang mencermati sentimen global dan domestik.

JAKARTA — Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal pekan ini masih dibayangi potensi koreksi, meski sempat dibuka di zona hijau. Analis menilai pasar tengah menunggu arah kebijakan moneter Amerika Serikat serta mencermati dampak erupsi Gunung Anak Krakatau terhadap sektor transportasi dan logistik dalam negeri.

Indeks sempat menguat tipis ke level 6.652,09, ditopang oleh penguatan indeks LQ45 yang naik 1,43 poin ke posisi 659,02. Namun, Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata menyebut level support terdekat berada di kisaran 6.595 hingga 6.551.

“IHSG diperkirakan rentan koreksi lanjutan menuju support terdekat 6.595 atau 6.551 dan 6.525. Adapun jika mampu rebound IHSG potensi kembali ke resistance 6.681 atau 6.704 dan lanjut tutup area gap 6.723,” ujar Liza dalam kajiannya di Jakarta, Senin.

Pasar Global Masih Diliputi Ketidakpastian

Dari mancanegara, sikap wait and see masih menyelimuti investor. Data ketenagakerjaan AS yang kuat membuat arah kebijakan moneter The Fed sulit diprediksi. Namun, pernyataan Gubernur The Fed Christopher Waller yang mendukung penahanan suku bunga jika tekanan harga mereda mulai meredakan kekhawatiran pasar.

“Perubahan ekspektasi itu kemudian memberikan dorongan terhadap aset berisiko di sejumlah pasar Asia,” kata Liza. Meski begitu, ketegangan AS dengan Iran dan risiko stabilitas di Timur Tengah tetap menjadi momok yang bisa mengganggu rantai pasok global. Konflik Rusia-Ukraina pun masih berpotensi menekan harga komoditas.

Erupsi Anak Krakatau dan Kebijakan BUMN Jadi Fokus Domestik

Di dalam negeri, aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau menjadi perhatian utama. Kementerian Perhubungan mencatat delapan bandara, termasuk Soekarno-Hatta dan Halim Perdanakusuma, sempat menghentikan operasional penerbangan pada 7 September lalu. Gangguan ini dinilai berisiko menekan sektor transportasi, pariwisata, dan distribusi barang apabila dampak abu vulkanik berlangsung lebih lama.

Pekan ini, pelaku pasar juga akan memantau rilis data cadangan devisa, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Agustus, serta penjualan ritel Juli. Di sisi lain, pemerintah berencana menutup 290 perusahaan BUMN yang disebut menghemat sekitar Rp50 triliun, dengan target penutupan 700 perusahaan lainnya hingga akhir 2026.

“Kebijakan ini berpotensi meningkatkan efisiensi dan profitabilitas BUMN, sekaligus diperkuat oleh percepatan hilirisasi sumber daya alam,” ujar Liza menambahkan.

Bursa Asia Mayoritas Menguat, Wall Street Melemah

Sementara itu, bursa Asia pagi ini menunjukkan kinerja beragam. Nikkei menguat signifikan 2,28 persen, disusul Kospi yang melonjak 2,99 persen. Sebaliknya, Hang Seng dan Straits Times justru tertekan. Kondisi ini kontras dengan bursa AS pada Jumat lalu yang ditutup melemah, dengan S&P 500 turun 0,38 persen dan Dow Jones melemah 0,51 persen.

Reporter: Said Fauzi
Sumber: jambi.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top