JAMBI — Kami menghabiskan waktu menelusuri detail teknis dan data pengujian dari peluncuran New Xforce HEV di Hall 10A ICE BSD City, GIIAS 2026. Fokus utama kami adalah memverifikasi klaim efisiensi yang disampaikan Mitsubishi, karena itu adalah alasan utama seseorang mengeluarkan uang puluhan juta rupiah untuk membeli mobil ini.
Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI) tidak main-main dengan klaim efisiensi. Uji bertajuk Single Tank Challenge Jakarta–Bali yang dilakukan pereli nasional Rifat Sungkar mencatat angka 1.172 kilometer dengan satu tangki penuh. Pada kecepatan rata-rata 70–80 km/jam, konsumsi bahan bakarnya menyentuh 27,9 km per liter.
Angka tersebut bukan hasil tes laboratorium yang sulit ditiru. Untuk pemakaian agresif di kemacetan Jabodetabek, data internal MMKSI mencatat konsumsi terendah di angka 20,5 km per liter. Rata-rata realistis untuk penggunaan harian berada di kisaran 24 km per liter.
Simulasi sederhananya begini: pekerja dengan rute Bekasi–SCBD sejauh 55 km pulang-pergi hanya mengeluarkan sekitar Rp39.875 untuk bensin per hari. Dalam sebulan, penghematan dibanding SUV bensin konvensional (yang rata-rata 12 km/liter) mencapai Rp690 ribu, atau sekitar Rp8,3 juta per tahun.
Xforce HEV menggunakan sistem full hybrid generasi kedua dari Mitsubishi, yang disebut dengan filosofi "Electric Drive, Beyond Hybrid Confidence." Jantungnya adalah mesin bensin 1.6L DOHC MIVEC berkode 4A92 bersiklus Atkinson yang menghasilkan 107 PS dan torsi 134 Nm. Mesin ini dipadukan dengan motor listrik bertenaga 116 PS dengan torsi instan 255 Nm.
Tenaga disalurkan melalui transaxle hybrid dua-percepatan yang berkarakter e-CVT. Sistem ini bekerja dalam empat mode yang berganti otomatis: motor listrik penuh saat merayap, mesin sebagai generator saat baterai butuh daya, keduanya berpadu saat akselerasi, dan mesin terhubung langsung ke roda di kecepatan tinggi.
Baterai lithium-ion 1,1 kWh yang digunakan tidak perlu dicolok ke listrik eksternal. Energi diisi ulang dari pengereman regeneratif dan putaran mesin yang sesekali berperan sebagai generator.
Ada satu detail teknis yang menarik: fitur motor disconnect yang memutus motor listrik dari poros penggerak pada kecepatan tinggi untuk mengurangi kehilangan energi. Ini adalah penyempurnaan dari sistem hybrid Xpander HEV yang lebih dulu hadir di Thailand. Dalam mode listrik murni, Xforce HEV bisa melaju hingga 121 km/jam sebelum mesin bensin mengambil alih.
Presiden Direktur PT MMKSI, Atsushi Kurita, menyatakan bahwa New Xforce dan New Xforce HEV adalah bentuk komitmen Mitsubishi untuk menyempurnakan produknya berdasarkan kebutuhan konsumen Indonesia. "Penyempurnaan yang kami hadirkan tidak hanya terlihat dari sisi desain dan fitur, tetapi juga diwujudkan melalui pengalaman berkendara secara menyeluruh yang menawarkan kenyamanan, rasa percaya diri, dan performa yang semakin baik untuk mendukung mobilitas sehari-hari," jelas Kurita dalam peluncuran Senin (24/8/2026).
Klaim soal "pengalaman berkendara" ini bukan basa-basi. Sistem pengelolaan tenaga listrik pada Xforce HEV diwarisi dari pengembangan Outlander PHEV, SUV plug-in hybrid pertama di dunia. Sementara kemampuan membaca medan yang dimiliki Mitsubishi sudah terbukti dari puluhan tahun kompetisi reli. Pertemuan dua jalur teknologi inilah yang menjadi dasar klaim "Next Level" dari Xforce HEV.
Xforce HEV jelas dirancang untuk pengguna dengan mobilitas harian tinggi di perkotaan—orang yang menempuh 50 km atau lebih setiap hari dan muak dengan frekuensi mengisi bensin. Angka efisiensi yang dipaparkan Mitsubishi masuk akal dan didukung data pengujian yang bisa dipertanggungjawabkan.
Namun, jika kebutuhanmu lebih sering untuk perjalanan tol jarak jauh dengan kecepatan konstan tinggi, keunggulan sistem hybrid ini akan berkurang. Di kecepatan di atas 120 km/jam, mesin bensin yang bekerja dominan membuat efisiensinya mendekati SUV bensin biasa. Untuk skenario itu, Xforce versi konvensional mungkin sudah cukup—kecuali kamu memang menginginkan teknologi terbaru dan sensasi berkendara yang lebih halus di kecepatan rendah.