BMKG Sebut 78 Persen Wilayah Jambi Berisiko Karhutla pada September 2026, Enam Daerah Waspada Kekeringan

Penulis: Said Fauzi  •  Rabu, 26 Agustus 2026 | 08:24:31 WIB
Petugas memantau kondisi lahan gambut yang rawan terbakar di Provinsi Jambi, September 2026.

JAMBI — BMKG memproyeksikan September 2026 menjadi periode dengan cakupan risiko karhutla terluas di Indonesia, termasuk di Provinsi Jambi. Lembaga tersebut memperkirakan 78 persen wilayah provinsi ini masuk kategori risiko menengah, lebih tinggi dibanding provinsi lain di Sumatera bagian selatan.

Prediksi ini tertuang dalam Buletin Informasi Iklim Perkebunan untuk Komoditas Sawit yang dirilis BMKG. Lembaga itu menyebut sebagian besar wilayah Indonesia pada September hingga November 2026 akan menerima curah hujan kategori rendah hingga menengah.

Enam Daerah di Jambi Terancam Kekurangan Air Tanaman

Kondisi ketersediaan air bagi tanaman juga menjadi perhatian serius. BMKG memproyeksikan enam kabupaten/kota di Jambi masuk kategori kurang pada September 2026, yakni Tebo, Tanjung Jabung Barat, Tanjung Jabung Timur, Muaro Jambi, Batanghari, dan Kota Jambi.

Sinyal kekeringan ini menjadi peringatan dini bagi pelaku perkebunan kelapa sawit. Pengelolaan air dan pemantauan kelembapan lahan perlu diperkuat untuk mengantisipasi dampak musim kemarau.

September Jadi Bulan Paling Rawan Dibanding Oktober dan November

BMKG mencatat 75,05 persen wilayah Indonesia pada September 2026 diprediksi menerima curah hujan rendah. Angka ini jauh lebih tinggi dibanding Oktober dan November yang cakupan risikonya mulai menyempit.

Sifat hujan di bawah normal diprediksi melanda 87,19 persen wilayah Indonesia pada September. Persentase itu masih cukup tinggi pada Oktober sebesar 81,60 persen sebelum turun menjadi 62,30 persen pada November.

Kalimantan Selatan dan Sumatera Selatan Masuk Zona Risiko Tinggi

Di luar Jambi, risiko tinggi karhutla terkonsentrasi kuat di Kalimantan Selatan dengan cakupan sekitar 96 persen wilayah. Kalimantan Tengah diperkirakan mencapai 84 persen, Sumatera Selatan 76 persen, dan Kepulauan Bangka Belitung sekitar 73 persen.

Risiko menengah juga diprediksi cukup luas di Kalimantan Barat sekitar 45 persen, Nusa Tenggara Barat 42 persen, Sulawesi Barat 39 persen, Sulawesi Selatan 35 persen, serta Gorontalo sekitar 32 persen.

BMKG menilai kondisi ini perlu direspons melalui peningkatan kesiapsiagaan, penguatan pemantauan titik panas, serta pengendalian aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran. Wilayah dengan ketersediaan air cukup pada September masih terdapat di sebagian besar Aceh, Sumatera Utara, Riau, Sumatera Barat, serta sebagian wilayah Papua.

Reporter: Said Fauzi
Sumber: infosawit.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top