IHSG Menguat ke 6.524 di Tengah Rencana BEI Ubah Aturan Harga Saham dan ARB-ARA

Penulis: Zulfahmi Rasyid  •  Jumat, 21 Agustus 2026 | 13:43:02 WIB
IHSG menguat 22,48 poin ke 6.524,07 pada pembukaan perdagangan Jumat.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka menguat 22,48 poin atau 0,35 persen ke posisi 6.524,07 pada Jumat. Penguatan ini terjadi di tengah pelaku pasar yang mencermati sentimen domestik, termasuk rencana bursa mengubah batas minimum harga saham, serta tekanan dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS.

JAKARTA — Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim memperkirakan IHSG berpotensi menguji level 6.600 jika mampu bertahan di atas rata-rata pergerakan 100 hari (MA100). Namun, ia mengingatkan adanya sentimen negatif eksternal yang perlu diwaspadai menjelang akhir pekan.

"Diperkirakan jika IHSG bertahan di atas level MA100, maka berpotensi akan menguji level berikutnya di 6.600 serta berpotensi menutup gap di 6.700. Namun perlu diwaspadai sentimen negatif eksternal dan menjelang akhir pekan," ujar Ratna dalam kajiannya di Jakarta, Jumat.

Rencana BEI: Harga Saham Rp 1 dan Aturan Baru ARB-ARA

Dari dalam negeri, BEI berencana mengubah batas minimum harga saham yang diperdagangkan di pasar reguler dan pasar tunai dari Rp50 menjadi Rp1 per saham. Perubahan ini turut menghapus dua kriteria dalam Papan Pemantauan Khusus, termasuk ketentuan harga rata-rata di bawah Rp51 dengan likuiditas rendah.

Bursa juga menyesuaikan batasan auto rejection (ARB dan ARA). Untuk saham berharga Rp1-10, batas ARB dan ARA menggunakan Rp1 berdasarkan nilai nominal. Sementara itu, saham pada rentang Rp11-200 akan memiliki ARA sebesar 35 persen, rentang Rp201-5000 sebesar 25 persen, dan di atas Rp5000 sebesar 20 persen.

Rencana ini akan diuji coba bersama Anggota Bursa pada 22 dan 29 Agustus 2026. BEI menargetkan implementasi perubahan aturan tersebut pada 7 September 2026.

Yield Obligasi AS Naik, Beban Pinjaman Perusahaan Menguat

Dari mancanegara, imbal hasil (yield) US-Treasury kembali naik meskipun ada rencana buyback obligasi skala besar oleh Departemen Keuangan AS. U.S. 10-year Bond Yield naik lebih dari 5 basis poin ke level 4,704 persen pada Kamis (20/8), sementara tenor 30 tahun naik ke 5,248 persen.

Ratna menyebut kenaikan yield tersebut memicu kekhawatiran perusahaan akan menanggung biaya pinjaman tinggi. Kondisi ini berpotensi menekan laba emiten jika berlangsung lama, sehingga menghambat laju indeks bursa yang sedang bullish.

Harga Minyak Naik, Bursa Global Justru Melemah

Harga minyak mentah ditutup menguat lebih dari 2 persen pada Kamis (20/8) setelah Menteri Keuangan AS menyatakan akan memberlakukan sanksi berat terhadap Iran. Di sisi lain, mayoritas bursa Eropa melemah, dengan indeks Euro Stoxx 50 turun 0,37 persen dan DAX Jerman melemah 0,42 persen.

Wall Street kompak melemah pada hari yang sama. Indeks Dow Jones Industrial Average turun 1,32 persen ke 52.759,21, S&P 500 melemah 0,87 persen ke 7.641,16, dan Nasdaq Composite turun 0,72 persen ke 29.213,17.

Di Asia, indeks Nikkei melemah 0,49 persen ke 65.956,00. Sementara itu, indeks Hang Seng menguat 0,56 persen ke 25.841,76 dan Kospi naik 0,77 persen ke 6.905,52.

Reporter: Zulfahmi Rasyid
Sumber: jambi.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top