JAMBI — KAI tidak hanya menyiapkan lahan, tetapi juga memastikan hunian yang dibangun nanti terintegrasi dengan aktivitas keseharian warga. Kawasan ini dirancang bukan sekadar tempat tinggal, melainkan bagian dari ekosistem transportasi yang lebih efisien.
Lahan yang disiapkan KAI terdiri dari Blok F seluas 15.014 meter persegi dan Blok G sekitar 6.925 meter persegi. Total area pengembangan mencapai 21.939 meter persegi atau setara 2,19 hektare.
Di atas lahan tersebut, KAI akan membangun 1.232 unit hunian dengan tiga pilihan tipe, yaitu 28, 36, dan 45. Selain hunian, kawasan ini juga akan dilengkapi fungsi ritel untuk mendukung kebutuhan warga sekitar.
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin menegaskan bahwa pengembangan Blok F dan G merupakan bagian dari penataan Manggarai secara bertahap. Menurutnya, KAI akan menjaga agar pengembangan kawasan tetap selaras dengan transportasi, konektivitas, dan kebutuhan masyarakat.
"Kedekatan antara hunian dan transportasi publik dapat membuat perjalanan masyarakat lebih efisien. Di Manggarai, konektivitas menjadi bagian penting agar kawasan hunian dapat terhubung dengan stasiun dan berbagai aktivitas sehari-hari," ujar Bobby dalam keterangan resminya, Kamis (20/8/2026).
Sejalan dengan pembangunan fisik, KAI juga terus berkoordinasi dalam penyusunan Master Plan dan Panduan Rancang Kota (PRK) Kawasan TOD Manggarai. Proses ini menjadi bagian dari tahapan pengembangan kawasan sesuai ketentuan yang berlaku.
Dengan adanya TOD ini, warga yang tinggal di kawasan Manggarai nantinya bisa mengakses Stasiun Manggarai tanpa kendaraan pribadi. Stasiun ini sendiri merupakan salah satu stasiun tersibuk di Jakarta yang melayani commuter line dan kereta jarak jauh.
Proyek ini juga sejalan dengan tren pengembangan properti di Jakarta yang mulai mengarah ke kawasan berorientasi transit. Selain memangkas waktu tempuh, hunian di dekat stasiun dinilai mampu mengurangi kemacetan karena warga tidak perlu bergantung pada kendaraan bermotor setiap hari.