JAMBI — GIIAS 2026 menjadi ajang BYD memaparkan detail teknologi Dual Mode (DM) pada lini PHEV mereka, khususnya M6 DM. Pendekatan ini berbeda dari kebanyakan hybrid di pasar yang mengandalkan mesin bensin sebagai penggerak dominan. Di M6 DM, peran tersebut justru dibalik—motor listrik yang bekerja paling keras.
BYD membagi keluarga Dual Mode ke dalam tiga varian dengan karakter berbeda. DM-i (Intelligent) dirancang untuk efisiensi bahan bakar, DM-p (Powerful) mengutamakan performa, dan DMO (Off-Road) untuk kendaraan yang sering melintasi medan berat.
M6 DM menggunakan platform DM-i. Sistem ini terdiri dari Dedicated Hybrid Engine, motor listrik EHS, Blade Battery, dan AC/DC On-board Charger yang terintegrasi dalam satu kesatuan sistem.
Saat baterai berada di kisaran 25-100 persen, M6 DM bergerak sepenuhnya menggunakan motor listrik. Jarak tempuhnya diklaim mencapai sekitar 110 km tanpa mesin bensin menyala sama sekali.
Ketika kapasitas baterai menipis atau pengemudi membutuhkan tenaga lebih besar, sistem beralih ke mode hybrid secara otomatis. Pada beban ringan, mesin bensin hanya berfungsi sebagai generator pengisi baterai—roda tetap digerakkan motor listrik. Saat akselerasi dibutuhkan, barulah mesin dan motor bekerja bersama. Sementara di kecepatan tinggi yang stabil, mesin bensin bisa langsung menggerakkan roda sambil mengisi baterai.
Konsekuensinya, mesin bensin di M6 DM jarang aktif. Ini memunculkan kekhawatiran soal keandalan mesin yang jarang dipanaskan—apalagi di negara dengan suhu panas seperti Indonesia.
BYD mengklaim mekanisme pelumasan mesin menggunakan sistem semprot oli yang aktif saat kendaraan berjalan, sehingga tidak bergantung pada proses pemanasan seperti mesin konvensional. Perusahaan juga menilai bensin tidak akan teroksidasi selama mobil rutin digunakan—pergerakan harian sudah cukup untuk mencegah masalah tersebut. Meski begitu, pengecekan berkala tetap disarankan.
Soal biaya penggantian baterai, BYD tidak membeberkan angka komponen tersebut. Perusahaan hanya menyebut garansi baterai delapan tahun, dan hingga saat ini belum ada laporan penggantian baterai mandiri dari pengguna di China. Sejumlah perusahaan asuransi juga sudah menawarkan perlindungan khusus baterai.
BYD M6 DM sudah diproduksi di Indonesia dengan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) lebih dari 40 persen. Fasilitas produksi yang sama juga digunakan untuk model lain seperti Atto 1 dan M6.
Perusahaan mengungkapkan M6 DM telah menerima sekitar 4.000 pesanan, dan pengiriman unit ke konsumen kini dilakukan bertahap.
BYD M6 DM menawarkan pendekatan berbeda di segmen PHEV—motor listrik sebagai penggerak utama, bukan sekadar pembantu. Kini pertanyaannya tinggal satu: apakah perilaku sistem ini cocok dengan kebiasaan berkendara masyarakat Indonesia? Itu baru bisa terjawab setelah unitnya benar-benar ada di tangan konsumen.