JAMBI — Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, mengungkapkan saat ini pihaknya tengah memfinalisasi persiapan teknis, terutama aspek keselamatan tabung gas tersebut. "Kami pastikan standar keamanan menjadi prioritas utama sebelum diedarkan ke masyarakat," ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (29/7/2026).
Tabung "Merah Putih" 3 Kg dirancang sebagai substitusi LPG yang selama ini sebagian besar masih diimpor. Dengan menggunakan CNG, pemerintah berharap bisa menekan beban subsidi energi dan memanfaatkan cadangan gas bumi dalam negeri yang melimpah.
Produk ini menyasar rumah tangga dan usaha mikro yang selama ini menjadi konsumen utama LPG 3 Kg. Jika uji coba berhasil, Pertamina berencana memperluas distribusi secara bertahap ke wilayah lain.
Meski nama kota di Jawa Barat belum diumumkan, sumber Kementerian ESDM menyebutkan daerah tersebut dipilih karena infrastruktur gas bumi yang sudah memadai dan tingkat konsumsi LPG yang tinggi. Uji coba akan melibatkan ratusan rumah tangga sebagai sampel awal.
Setiap peserta akan mendapatkan satu set tabung "Merah Putih" beserta regulator khusus. Pertamina juga akan menyediakan stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG) portabel di lokasi uji coba untuk memudahkan pengguna mengisi ulang.
Berbeda dengan LPG yang dicairkan, CNG disimpan dalam bentuk gas bertekanan tinggi. Tabung "Merah Putih" terbuat dari material komposit yang lebih ringan dan tahan ledakan, sehingga lebih aman dibanding tabung baja konvensional.
Dari segi harga, CNG diperkirakan 20-30 persen lebih murah dari LPG 3 Kg bersubsidi. Namun, pemerintah masih mengkaji skema harga agar tidak membebani daya beli masyarakat sekaligus tetap efisien secara fiskal.
Uji coba publik ini menjadi batu loncatan bagi program konversi energi rumah tangga yang lebih luas. Jika terbukti aman dan diminati, tabung "Merah Putih" bisa menjadi solusi jangka panjang untuk mengurangi impor LPG yang mencapai jutaan ton per tahun.