MUARO JAMBI — Minimnya kiriman air dari hulu dan ketiadaan hujan dalam sebulan terakhir membuat tinggi muka air Sungai Batanghari turun drastis. Di Kabupaten Muaro Jambi, dampaknya langsung dirasakan warga yang menggantungkan hidup di sungai tersebut.
Kamal, petani ikan keramba setempat, mengaku kesulitan sejak air sungai mulai surut. “Air menjadi keruh dan banyak ikan yang mati. Kami juga kesulitan memberi pakan karena kondisi air semakin dangkal,” ujarnya.
Menurut Kamal, jika kemarau terus berlanjut tanpa hujan, kerugian yang dialami para petani dipastikan semakin membesar. Mereka berharap hujan segera turun agar kondisi sungai kembali normal dan usaha mereka terselamatkan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Muaro Jambi belum bisa memastikan secara rinci ketinggian muka air Sungai Batanghari saat ini. Meski demikian, pihaknya telah mengeluarkan imbauan kepada masyarakat.
Warga diminta lebih bijak dalam menggunakan air bersih, mengingat musim kemarau diperkirakan masih berlangsung dalam beberapa waktu ke depan. BPBD juga meminta warga tetap waspada terhadap potensi kekeringan dan berkurangnya ketersediaan air untuk kebutuhan sehari-hari.
Surutnya Sungai Batanghari tidak hanya mengancam sektor perikanan keramba. Aktivitas lain yang bergantung pada aliran sungai, seperti transportasi air dan penambangan pasir tradisional, juga mulai terdampak. Jika kemarau berkepanjangan, tekanan ekonomi pada warga di bantaran sungai diprediksi meningkat.