IHSG Ditutup Menguat 0,91 Persen di Tengah Sikap Wait and See Menanti Keputusan Suku Bunga BI Pekan Ini

Penulis: Said Fauzi  •  Selasa, 21 Juli 2026 | 08:18:01 WIB
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,91 persen pada perdagangan Senin, di tengah sikap wait and see pelaku pasar menjelang keputusan suku bunga Bank Indonesia pekan ini.

JAKARTA — IHSG berhasil bertahan di zona hijau sepanjang sesi perdagangan, dari pembukaan hingga penutupan. Indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan juga ikut menguat 5,84 poin atau 0,94 persen ke posisi 627,75. Sebanyak 421 saham tercatat naik, 220 saham menurun, dan 324 saham stagnan dari total transaksi yang mencapai 2.362.000 kali dengan nilai Rp17,11 triliun.

Pasar Menanti Sinyal, Bukan Sekadar Angka Suku Bunga

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, mengatakan bahwa pergerakan IHSG sepanjang pekan RDG BI masih akan diwarnai sikap wait and see. Pelaku pasar tidak hanya menanti besaran BI-Rate, tetapi lebih mencermati arah kebijakan ke depan, terutama terkait stabilitas nilai tukar Rupiah, inflasi, dan prospek arus modal asing.

"Dalam kondisi seperti ini, pasar umumnya lebih sensitif terhadap sinyal atau forward guidance yang disampaikan BI dibandingkan besaran suku bunga itu sendiri," ujar Hendra saat dihubungi di Jakarta, Senin.

BI Rate Sudah Naik 100 Bps Sepanjang 2026

Sepanjang tahun 2026, Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan sebanyak tiga kali dengan total 100 basis poin (bps) ke level 5,75 persen. RDG pada pekan ini menjadi momen krusial untuk melihat apakah tren pengetatan moneter akan berlanjut atau mulai melandai.

Menurut Hendra, reaksi pasar cenderung positif selama BI tetap mengedepankan keseimbangan antara menjaga stabilitas Rupiah dan mendukung pertumbuhan ekonomi. Sebagian besar ekspektasi itu, kata dia, sudah diperhitungkan investor.

Sembilan Sektor Menguat, Teknologi dan Kesehatan Tertekan

Secara sektoral, sembilan dari sebelas indeks IDX-IC mencatat penguatan. Sektor industri memimpin kenaikan sebesar 3,23 persen, disusul sektor energi yang naik 2,55 persen, dan sektor barang baku yang menguat 1,79 persen. Sementara itu, dua sektor justru melemah: sektor teknologi turun paling dalam sebesar 0,63 persen, diikuti sektor kesehatan yang turun 0,19 persen.

Saham-saham dengan penguatan harga terbesar antara lain KOKA, KBLV, AGAR, HOPE, dan ECII. Sedangkan saham yang mengalami pelemahan harga terbesar adalah AIMS, BAPA, PRDL, JELI, dan RMKE.

Jika Sinyal Pengetatan Agresif Muncul, Sektor Ini Paling Rentan

Hendra mengingatkan, apabila RDG BI nanti mengeluarkan sinyal pengetatan moneter yang lebih agresif, tekanan jangka pendek terhadap IHSG masih mungkin terjadi. Sektor-sektor yang sensitif terhadap suku bunga, seperti properti dan perbankan konsumer, diprediksi paling terdampak.

"Meski demikian, langkah tersebut juga dapat dipandang positif karena memperkuat kepercayaan investor terhadap stabilitas ekonomi Indonesia," ujar Hendra.

Prospek IHSG hingga Akhir 2026: Volatil Tapi Masih Menjanjikan

Untuk prospek hingga akhir tahun, Hendra menilai peluang IHSG masih cukup menjanjikan meskipun volatilitas diperkirakan tetap tinggi. Ia menyebut arah pergerakan pasar tidak hanya ditentukan oleh kebijakan BI, tetapi juga dipengaruhi keputusan suku bunga The Fed, perkembangan geopolitik global, stabilitas nilai tukar Rupiah, harga komoditas, serta kinerja laba emiten.

"Kenaikan suku bunga BI tidak selalu menjadi sentimen negatif bagi pasar saham. Dalam kondisi tertentu, langkah itu justru dipandang sebagai upaya menjaga stabilitas makroekonomi sehingga mampu meningkatkan daya tarik aset keuangan Indonesia di mata investor asing," pungkas Hendra.

Sementara itu, bursa saham regional Asia sore ini bergerak variatif. Indeks Shanghai menguat 0,85 persen, Hang Seng melesat 2,36 persen, namun Kospi melemah 4,46 persen dan Strait Times turun tipis 0,20 persen.

Reporter: Said Fauzi
Sumber: jambi.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top