JAMBI — Petani sawit di Provinsi Jambi mulai menuai kabar positif di penghujung Juni 2026. Tim Penetapan Harga Tandan Buah Segar (TBS) Sawit Provinsi Jambi merilis harga terbaru yang menunjukkan tren penguatan untuk semua kategori usia tanaman.
Berdasarkan data resmi Dinas Perkebunan Provinsi Jambi, harga TBS sawit untuk tanaman berusia 10 hingga 20 tahun—yang merupakan fase produktif tertinggi—naik sebesar Rp1,97 per kilogram. Angka ini kini mencapai Rp3.708,55 per kilogram, menjadikannya harga tertinggi di antara semua kelompok umur.
Performa positif ini berbanding lurus dengan harga CPO yang ditetapkan sebesar Rp14.988,82 per kilogram dan harga inti sawit (kernel) di angka Rp12.078,65 per kilogram. Indeks K yang menjadi acuan penetapan harga berada di level 94,64 persen.
Data dari tim penetapan harga menunjukkan bahwa kenaikan juga dirasakan petani dengan tanaman di luar usia prima. Untuk sawit berumur 3 tahun, harga di tingkat petani ditetapkan sebesar Rp2.891,63 per kilogram. Sementara itu, sawit berumur 4 tahun dihargai Rp3.089,83 per kilogram, dan terus meningkat bertahap hingga umur 9 tahun yang mencapai Rp3.594,51 per kilogram.
Memasuki usia tua, harga mulai menunjukkan sedikit penurunan. Tanaman sawit berumur 21 hingga 24 tahun dihargai Rp3.595,81 per kilogram, sedangkan yang sudah mencapai 25 tahun berada di angka Rp3.432,41 per kilogram.
Berbeda dengan sawit, sektor perkebunan karet di Jambi belum menunjukkan pergerakan berarti. Berdasarkan data pemantauan dari laman Bappepti, Senin (29/6/2026) pukul 10.20 WIB, harga karet lokal masih bertahan di level Rp15.000 per kilogram.
Ketiadaan fluktuasi ini menandakan pasar karet di Jambi cenderung stabil. Meski begitu, fluktuasi harian di lapangan tetap berpotensi terjadi karena harga sangat bergantung pada kualitas lateks yang dipanen serta serapan pasar ekspor dan pabrikan lokal.
Kenaikan harga TBS sawit sebesar Rp1,97 per kilogram mungkin terlihat kecil, namun dalam skala produksi bulanan—misalnya 2 ton per hektare—petani bisa mendapatkan tambahan pendapatan hampir Rp4.000 per kilogram panen. Bagi petani karet, stabilitas harga setidaknya memberikan kepastian di tengah fluktuasi komoditas global yang kerap tidak menentu.
Pemerintah Provinsi Jambi diharapkan terus memantau dinamika harga kedua komoditas unggulan ini, mengingat sektor perkebunan masih menjadi tulang punggung ekonomi sebagian besar warga di daerah tersebut.