JAMBI — Bagi Wassim al-Haffar, mobil klasik memiliki nilai artistik yang melampaui fungsi mekanisnya. Sebagai desainer interior, ia melihat lekuk bodi, detail krom, dan desain jok lawas sebagai kanvas sejarah yang layak diawetkan. Gairah inilah yang mendorongnya mengumpulkan puluhan unit kendaraan tua di tengah keterbatasan akibat perang saudara yang masih berlangsung.
Proses membangun museum di negara yang dilanda konflik bukanlah perkara mudah. Wassim harus berhadapan dengan kelangkaan suku cadang, blokade impor, serta ancaman keamanan yang menghantui setiap pergerakannya. Namun, ia justru memanfaatkan situasi ini untuk mencari mobil-mobil yang ditinggalkan pemiliknya yang mengungsi atau dijual murah karena dianggap tidak bernilai di tengah krisis.
Setiap unit yang berhasil diamankan menjalani restorasi manual dengan peralatan seadanya. Wassim dan tim kecilnya mengandalkan keterampilan tangan serta pengetahuan mekanik klasik yang diwariskan secara turun-temurun. Hasilnya, puluhan mobil dari era 1950-an hingga 1970-an kini tersusun rapi di sebuah bangunan di pinggiran Damaskus.
Museum ini bukan sekadar tempat parkir kendaraan tua. Wassim menata setiap unit seperti instalasi seni, lengkap dengan pencahayaan dan latar yang memperkuat karakter masing-masing mobil. Ia ingin pengunjung tidak hanya melihat bodi berkarat atau mesin usang, tetapi membaca cerita di baliknya—tentang masa lalu Suriah yang damai, tentang industri otomotif global, dan tentang ketangguhan manusia yang tetap berkarya di tengah perang.
Beberapa koleksi andalannya antara lain sedan Eropa buatan 1950-an yang langka di Asia, serta mobil Amerika dengan sirip belakang khas era jet. Setiap unit memiliki dokumen riwayat kepemilikan yang dilacak sendiri oleh Wassim dari pemilik sebelumnya.
Wassim berharap museumnya bisa menjadi tujuan wisata edukasi jika situasi keamanan di Suriah pulih. Ia juga membuka pintu bagi kolektor lain yang ingin menitipkan atau meminjamkan mobil klasiknya untuk dipamerkan. Lebih dari sekadar hobi, museum ini adalah pernyataan bahwa perang tidak boleh mematikan mimpi dan kreativitas.
Bagi Wassim al-Haffar, setiap mobil di museumnya adalah monumen perlawanan—bukan dengan senjata, melainkan dengan keindahan dan ingatan.