JAMBI — Josua Pardede, ekonom dari Bank Permata, memberikan pandangannya terkait dampak penguatan rupiah terhadap industri otomotif tanah air. Menurutnya, meski kurs yang menguat bisa sedikit meringankan beban impor komponen, efeknya belum cukup kuat untuk menjadi dasar pemulihan pasar. Produsen justru dihadapkan pada dilema antara menjaga margin atau mempertahankan volume penjualan.
"Penguatan rupiah memang membantu, tapi belum cukup jadi obat," ujar Josua dalam diskusi daring pekan lalu. Ia menekankan bahwa faktor utama yang menentukan pemulihan industri adalah daya beli masyarakat yang masih tertekan. Kenaikan harga kendaraan di saat seperti ini, menurutnya, hanya akan memperburuk situasi.
Josua menambahkan, produsen mobil sebaiknya memanfaatkan momentum penguatan rupiah untuk menahan laju kenaikan harga jual. Langkah ini lebih realistis ketimbang langsung menurunkan harga, mengingat biaya logistik dan bahan baku global belum sepenuhnya stabil. Strategi menahan harga dinilai lebih efektif untuk menjaga momentum penjualan.
Meski rupiah menguat, struktur biaya produksi kendaraan di Indonesia masih dibayangi kenaikan harga komoditas dan suku bunga acuan. Produsen masih harus berhadapan dengan biaya pengiriman yang tinggi serta harga material seperti baja yang belum turun signifikan. Alhasil, ruang untuk menurunkan harga jual secara agresif masih sangat terbatas.
Kondisi ini membuat para Agen Pemegang Merek (APM) berada dalam posisi sulit. Di satu sisi, mereka ingin menjaga pasar dengan harga kompetitif. Di sisi lain, margin keuntungan sudah tipis karena biaya produksi yang tak kunjung murah. Harapan pun tertuju pada stabilitas nilai tukar yang lebih panjang agar industri bisa bernapas lega.