JAMBI — Jejak perjuangan Elva Gemita di hutan Sumatera tak lekang oleh waktu. Meski tak menyelesaikan pendidikan sarjana biologi atau kehutanan, perempuan ini tumbuh menjadi salah satu suara paling lantang dalam upaya penyelamatan satwa liar. Kariernya dimulai dari titik nol: pada 2003, ia menjadi asisten peneliti di Proyek Harimau Jambi yang dikelola Zoological Society of London.
Di proyek itulah ia belajar membaca jejak kaki dan feses satwa, mengoperasikan jebakan kamera, hingga membongkar jerat ilegal di dalam hutan. Tomi Ariyanto, rekan kerjanya kala itu, mengenang Elva sebagai pemimpin yang tak segan terjun langsung ke lapangan. “Mba Elva adalah contoh leader yang sangat berkomitmen terhadap visinya, tidak segan langsung terjun ke lapangan memberikan contoh dan menyemangati anggota timnya,” ujarnya.
Dari hutan Kerinci, Elva terus melangkah. Ia pernah menjabat Manajer Lapangan di Durrell Institute of Conservation and Ecology yang bekerja sama dengan Flora and Fauna International, lalu menjadi Koordinator Tim di TNKS. Pada 2016, ia berhasil meraih beasiswa dan menyelesaikan gelar Magister Manajemen Proyek Konservasi dari University of Kent, Inggris.
Pencapaian itu tak main-main. Iding Haidir, Ketua Forum Harimau Kita, mengaku terinspirasi oleh Elva hingga ia sendiri mendapat beasiswa ke Oxford. “Elva itu bahasa Inggrisnya selayak bangsawan Inggris. Dia yang lahir dan besar di kampung, mampu membuktikan itu bukan halangan meraih mimpi kuliah ke luar negeri,” kata Iding.
Puncak kontribusi Elva terjadi di Hutan Harapan, Sumatera, tempat ia menjabat Manajer Departemen Lingkungan, Penelitian, dan Pengembangan sejak 2010. Di sana, ia tak cuma memimpin riset tentang harimau dan gajah Sumatera, tetapi juga merajut jaringan antara masyarakat adat, pemerintah, akademisi, dan donor internasional. Hasilnya, Hutan Harapan menjadi salah satu model restorasi ekosistem paling diakui di Asia Tenggara.
Adam Aziz, Direktur Hutan Harapan, menyebut Elva sebagai “pejuang dan pahlawan” bagi hutan dataran rendah yang tersisa. “Dia sangat militan dan berkontribusi luar biasa untuk penyelamatan biodiversitas,” ujarnya.
Kata-kata Elva yang paling diingat sederhana namun kuat: “Untuk menjaga biodiversitas hutan dibutuhkan tangan perempuan.” Ia membuktikannya selama lebih dari dua dekade, di medan berat, dalam proyek-proyek yang jarang mendapat sorotan publik. Sunarto, ahli ekologi satwa liar yang pernah bekerja bersamanya di Kerinci-Seblat, merangkumnya singkat: “Berita kepergian Elva meninggalkan kekosongan yang mendalam. Kontribusinya yang luar biasa terhadap konservasi akan menjadi warisan yang abadi.”
Elva pergi di usia yang terlalu muda. Tapi jejaknya di hutan Sumatera tidak ikut pergi. Ia hidup dalam data, dalam kebijakan, dalam orang-orang yang ia latih, dan dalam hutan yang masih berdiri karena ada orang seperti dia yang memilih untuk tidak diam.