JAMBI — Bagi pengguna transportasi online di Jakarta, hujan sering berarti tarif melonjak 2-3 kali lipat. Algoritma surge pricing yang diterapkan aplikator besar membuat ongkos membengkak di saat permintaan tinggi. InDrive menawarkan jalan keluar: penumpang yang menentukan harga, bukan mesin.
Di aplikasi ini, penumpang memasukkan tujuan lalu menawar harga yang dianggap wajar. Sopir bisa menerima, menolak, atau menawar balik. Setelah beberapa sopir merespons, penumpang bebas memilih berdasarkan harga, rating, atau jarak kedatangan.
Cerita InDrive dimulai di Yakutsk, kota terdingin di Siberia. Saat suhu anjlok ke -40°C pada 2012, perusahaan taksi lokal menaikkan tarif dua kali lipat. Warga tak punya pilihan selain membayar atau kedinginan di jalan. Sekelompok mahasiswa kemudian membuat grup Facebook bernama "Independent Drivers" untuk mempertemukan penumpang dan sopir yang mau bernegosiasi langsung.
Filosofi itu bertahan hingga kini. Setelah rebranding menjadi inDrive, platform ini terus ekspansi dan masuk Indonesia sebagai alternatif bagi masyarakat yang mulai lelah dengan tarif standar aplikator besar. "Model real-time deals ini sangat relevan dengan karakter masyarakat Indonesia yang gemar tawar-menawar," tulis manajemen InDrive dalam keterangan resmi.
Dari sisi pengemudi, InDrive menawarkan potongan komisi lebih kecil. Jika kompetitor memotong 20-25 persen dari tarif penumpang, InDrive hanya mengambil 10-15 persen. Selisih itu membuat pendapatan bersih sopir lebih besar, meski tarif yang disepakati mungkin lebih rendah dari harga pasar.
Sopir juga punya otonomi penuh. Mereka tak dipaksa mengambil orderan yang lokasinya terlalu jauh atau harganya terlalu rendah. Keputusan ada di tangan manusia, bukan algoritma.
Bagi penumpang, keuntungan utama adalah kepastian harga. Begitu angka disepakati, tak ada biaya tambahan atau kenaikan mendadak. Fitur keamanan tetap tersedia, termasuk berbagi lokasi perjalanan secara real-time ke keluarga atau teman.
Proses tawar-menawar juga menciptakan interaksi personal antara penumpang dan sopir. Bukan lagi sekadar transaksi bisnis, tapi negosiasi dua pihak yang sama-sama punya hak memilih.
Di tengah dominasi raksasa ride-hailing global, InDrive membuktikan bahwa model yang mengembalikan kendali ke tangan pengguna—bukan algoritma—masih punya tempat. Terutama di Indonesia, negeri yang warganya tak asing dengan tradisi tawar-menawar.