JAMBI — Rupiah melemah 83 poin atau 0,46 persen ke Rp18.021 per dolar AS pada perdagangan Jumat (16/10/2026), menembus level Rp18.000 untuk pertama kali. Pelemahan dipicu rencana MSCI menurunkan status pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Bank Indonesia bergerak cepat melakukan intervensi di pasar valas dan surat berharga negara.
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menyebut pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) sebagai salah satu pemicu utama tekanan terhadap rupiah. MSCI mengusulkan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia, dari Emerging Market (EM) menjadi Standalone Market — kategori tersendiri di luar kelompok pasar berkembang.
Usulan itu lahir setelah MSCI menilai perbaikan pasar saham Indonesia belum cukup maju dan konsisten. Pelaku pasar masih mempermasalahkan dugaan perdagangan saham terkoordinasi serta minimnya bukti penegakan aturan.
Jalur Intervensi Bank Indonesia
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea memastikan bank sentral tetap berada di pasar untuk menjaga stabilitas rupiah. Intervensi dilakukan lewat transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di luar negeri, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di dalam negeri, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Langkah tersebut diambil saat investor global cenderung menghindari aset berisiko atau risk-off. Kondisi ini memperkuat dolar AS dan menambah tekanan ke pasar keuangan Indonesia.
Erwin memperkirakan arus keluar dana asing dari investasi portofolio domestik masih berlanjut. Meski begitu, BI mencatat pelemahan rupiah sepanjang kuartal berjalan masih terbatas 0,28 persen, relatif sejalan dengan pergerakan mata uang kawasan. Cadangan devisa Indonesia tercatat 146,3 miliar dolar AS pada akhir September 2026.
"Bank Indonesia juga menjaga kecukupan likuiditas dan mengelola struktur suku bunga di pasar uang, serta terus berkoordinasi dan berkomunikasi secara intensif dengan korporasi, pelaku pasar, dan pihak terkait lainnya," ujar Erwin.
IHSG Anjlok 8 Persen, Trading Halt Dipicu
Pengumuman MSCI mengguncang Bursa Efek Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 469,86 poin atau 8,01 persen ke posisi 5.393,92 pada Jumat pagi, memicu penghentian sementara perdagangan atau trading halt. Indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan ikut merosot 8,33 persen ke 540,95.
Di pasar valas, rupiah dibuka melemah ke Rp18.021 per dolar AS dari penutupan sebelumnya Rp17.938 per dolar AS. Tekanan datang dari dalam dan luar negeri sekaligus.
Inflasi AS Perkuat Dolar
Inflasi konsumen Amerika Serikat pada September 2026 tercatat 3,7 persen secara tahunan, naik dari 3,4 persen pada Agustus. Angka itu melampaui perkiraan pasar 3,6 persen. Inflasi inti juga meningkat menjadi 2,6 persen dari 2,4 persen.
Kenaikan terutama dipicu biaya tempat tinggal dan kendaraan, sementara inflasi umum didorong harga energi. Tekanan di tingkat produsen bahkan lebih tinggi — indeks harga produsen AS naik 1,3 persen secara bulanan dan 6,3 persen secara tahunan.
"Perkembangan tersebut menegaskan masih kuatnya tekanan inflasi baik di sisi produsen maupun konsumen di AS," kata Josua.
Sejumlah pejabat Federal Reserve memberi sinyal keputusan suku bunga masih menunggu data tambahan. Investor menantikan pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh sebelum masa pembatasan komunikasi pejabat bank sentral dimulai Sabtu (17/10/2026).
Josua memperkirakan rupiah bergerak dalam kisaran Rp17.925 hingga Rp18.050 per dolar AS sepanjang perdagangan Jumat, di tengah meningkatnya kekhawatiran investor pasca-pengumuman MSCI. Masukan pelaku pasar atas usulan perubahan status Indonesia akan diterima hingga 30 April 2027, dengan keputusan final diharapkan sebelum 30 Juni 2027.
Bagi investor dan pelaku usaha, kombinasi tekanan eksternal dan ketidakpastian status pasar saham membuat posisi rupiah masih rentan dalam jangka pendek. Cadangan devisa 146,3 miliar dolar AS dan intervensi tiga jalur BI menjadi bantalan utama menahan pelemahan lebih dalam.