JAMBI — Indonesia resmi mengirimkan "Four Seasons in Java" atau "Empat Musim Pertiwi" karya Kamila Andini sebagai wakil dalam seleksi Film Fitur Internasional Terbaik Oscar 2027. Film drama ini dibintangi Putri Marino, Christine Hakim, dan Arya Saloka, serta telah tayang perdana dunia di Toronto International Film Festival pada September 2026. Indonesia bersaing dengan enam negara Asia Tenggara lain yang juga mendaftarkan karya terbaik mereka.
Empat Musim Pertiwi mulai menyapa penonton bioskop Tanah Air sejak 8 Oktober 2026. Kisahnya berpusat pada Pertiwi, perempuan yang baru bebas dari penjara dan kembali ke kampung halaman, lalu berhadapan dengan kenangan kelam serta kekerasan masa lalu yang membentuk hidupnya.
Kamila Andini merangkai drama ini sebagai potret emosional tentang trauma dan dinamika masyarakat. Penampilan Putri Marino sebagai Pertiwi didampingi Christine Hakim dan Arya Saloka. Sebelum dikirim ke Academy Awards, film ini lebih dulu menggelar pemutaran perdana dunianya di Toronto.
Kamboja Bawa Kisah Hantu Penjaga Bioskop
Kamboja menunjuk "Becoming Human" atau "Chiet Chea Manusa" sebagai perwakilan resmi mereka. Film ini menjadi debut panjang sutradara Polen Ly, mengangkat kisah Thida, hantu penjaga roh di sebuah bioskop tua yang hendak dihancurkan.
Thida dihadapkan pada pilihan sulit: bereinkarnasi menjadi manusia atau bertahan sebagai roh tanpa tempat tinggal. Pertemuannya dengan pria bernama Hai membuka ikatan emosional sekaligus menyentuh isu perubahan sosial dan pemulihan trauma sejarah Kamboja. Film ini tayang perdana di Venice International Film Festival 2025 dan berkeliling ke Busan serta Jogja-NETPAC Asian Film Festival.
Vietnam Angkat Legenda Makam Kaisar Pertama
Vietnam menjagokan "Spirit Guardians: The Last Secret of the First Emperor" atau "H? Linh Tráng S? Bí ?n M? Vua ?inh". Sutradara Nguy?n Phan Quang Bình mengangkat legenda populer seputar makam kaisar pertama Vietnam, ?inh Tiên Hoàng, pada masa Dinasti ?inh.
Ceritanya mengikuti tujuh prajurit tangguh yang mengemban misi rahasia melindungi situs suci tersebut. Film ini mencatat sejarah sebagai karya Vietnam pertama yang menembus program Gala Presentations di Toronto International Film Festival 2026 sebelum tayang luas di bioskop Asia Tenggara.
Malaysia Gandeng Dian Sastrowardoyo
Malaysia mengusung "The Fox King" atau "Semusim Lara" karya Woo Ming Jin. Drama ini menyoroti kehidupan saudara kembar Ali dan Amir yang tumbuh tanpa figur ibu, hingga hubungan mereka merenggang saat sang ayah memutuskan menikah lagi.
Kehadiran Lara, guru bahasa Inggris baru yang diperankan Dian Sastrowardoyo, membawa dinamika besar dalam hidup kedua remaja itu. Idan Aedan dan Hadi Putra melengkapi jajaran pemain. Proyek kolaborasi Malaysia-Indonesia ini tayang di bioskop Malaysia pada 17 September 2026, setelah menarik perhatian di Toronto International Film Festival 2025, Busan, dan Jakarta Film Week.
Thailand dan Perjalanan Sembilan Kuil
Thailand mempercayakan peluangnya pada "9 Temples to Heaven" atau "9 ??? ?????????" arahan Sompot Chidgasornpongse. Film ini mengisahkan sembilan anggota keluarga yang berusaha mendatangi sembilan kuil berbeda dalam satu hari setelah seorang peramal memprediksi nenek mereka yang berusia 83 tahun tak akan bertahan hingga ulang tahun berikutnya.
Perjalanan intens itu perlahan membongkar konflik internal, perbedaan pandangan keyakinan, dan pergeseran nilai antargenerasi. Sompop Songkampol dan sejumlah aktor Thailand lain mengisi jajaran pemain. Karya ini tayang perdana di program Directors Fortnight Cannes Film Festival 2026 dan membawa pulang penghargaan Best Director di Shanghai International Film Festival 2026.
Singapura dan Dinamika Keluarga Junyang
Singapura mendaftarkan "We Are All Strangers" karya sutradara Anthony Chen. Narasinya berfokus pada Junyang, pemuda 21 tahun yang diuji saat kekasihnya hamil, sementara sang ayah yang lama menduda memutuskan memulai hubungan asmara baru.
Konflik batin Junyang menjadi inti cerita yang mengangkat kerumitan hubungan keluarga modern. Film ini melengkapi daftar tujuh perwakilan Asia Tenggara yang bersaing di seleksi awal Oscar 2027.
Pengiriman tujuh film ini menandai langkah industri perfilman ASEAN yang semakin diperhitungkan di panggung sinema global. Narasi autentik dan kekayaan nilai budaya lokal menjadi kekuatan utama masing-masing negara dalam perburuan nominasi Film Fitur Internasional Terbaik.