JAMBI — PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk resmi memisahkan unit usaha bisnis fiber InfraCo melalui penandatanganan akta pemisahan setelah mendapat persetujuan pemegang saham independen. Lebih dari 90 persen aset infrastruktur jaringan Telkom dikonsolidasikan ke PT Telkom Infrastruktur Indonesia (InfraNexia), mencakup sekitar 112.000 kilometer fiber optic dengan total nilai transaksi Rp85,7 triliun.
Akta pemisahan (deed of spin-off) ditandatangani oleh Direktur Utama Telkom Nanang Hendarno dan Direktur Utama InfraNexia Lukman Hakim Abd. Rauf. Langkah korporasi ini menandai beroperasinya InfraNexia sebagai penyedia infrastruktur digital berbasis wholesale yang berdiri sendiri, lepas dari struktur konsolidasi TelkomGroup.
Dari total jaringan yang dialihkan, sekitar 26.000 kilometer di antaranya merupakan Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) domestik. Skala aset sebesar itu menempatkan InfraNexia sebagai salah satu pemilik infrastruktur fiber terbesar di Indonesia begitu resmi beroperasi.
Pasar Eksternal Jadi Target Pertumbuhan Utama
InfraNexia diarahkan untuk semakin mempertajam fokus bisnis serta meningkatkan produktivitas aset infrastruktur guna mendorong peningkatan kontribusi pasar eksternal terhadap pendapatan segmen B2B Infrastructure TelkomGroup. Selama ini, sebagian besar pemanfaatan jaringan fiber Telkom masih terbatas untuk kebutuhan internal grup.
Nanang Hendarno menyatakan pemisahan ini membuka akses pemanfaatan infrastruktur bagi lebih banyak pelaku industri di luar TelkomGroup.
"Dengan skala dan fokus yang semakin solid, InfraNexia diharapkan mampu mengelola infrastruktur secara lebih optimal sekaligus membuka pemanfaatannya bagi lebih banyak pelaku industri. Langkah ini menjadi bagian dari upaya TelkomGroup membangun bisnis agar semakin fokus, kompetitif, dan mampu menciptakan nilai yang jauh lebih besar dari tiap aset strategis yang dimiliki," ujar Nanang dalam keterangan resmi.
Rincian Aset yang Dialihkan ke InfraNexia
Konsolidasi aset infrastruktur jaringan ke InfraNexia mencakup beberapa komponen utama:
- Lebih dari 90 persen aset infrastruktur jaringan yang sebelumnya berada di bawah Telkom
- Sekitar 112.000 kilometer jaringan fiber optic
- 26.000 kilometer SKKL domestik
- Total nilai transaksi Rp85,7 triliun
InfraNexia beroperasi dengan model bisnis wholesale, artinya perusahaan menjual kapasitas jaringan ke operator lain dan penyedia layanan digital, bukan langsung ke konsumen akhir. Model ini lazim di industri telekomunikasi global untuk meningkatkan utilisasi jaringan tanpa harus membangun infrastruktur baru dari nol.
Apa Artinya bagi Pemegang Saham TLKM
Pemisahan unit usaha ini membuat TelkomGroup memiliki entitas tersendiri yang fokus mengelola aset infrastruktur pasif, sementara Telkom tetap menjalankan bisnis layanan telekomunikasi dan digital. Bagi investor, struktur ini berpotensi membuka opsi monetisasi aset fiber yang selama ini terkonsolidasi dalam laporan keuangan Telkom.
Kontribusi pasar eksternal terhadap pendapatan segmen B2B Infrastructure menjadi indikator yang perlu dicermati ke depan. Jika InfraNexia berhasil menarik pelanggan di luar TelkomGroup, nilai aset fiber yang dialihkan berpotensi menghasilkan pendapatan berulang dari penyewaan kapasitas jaringan.
Telkom belum mengungkap target pendapatan spesifik maupun proyeksi kontribusi pasar eksternal pasca-spin off. Perusahaan juga tidak menyebutkan jadwal operasional penuh InfraNexia sebagai entitas terpisah.