JAMBI — Rekaman drone yang viral memperlihatkan daratan baru menyerupai pulau kecil muncul di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau pasca erupsi. Luas daratan tersebut diketahui mencapai lebih dari 30 hektare. Edukator Mitigasi Bencana Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono memastikan bentukan itu merupakan endapan material vulkanik, bukan gunung api baru.
Daryono, Edukator Mitigasi Bencana dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), menyatakan daratan tersebut bukan gunung api baru. Material yang menumpuk di permukaan laut itu merupakan endapan vulkanik yang terdorong ke luar saat erupsi.
Apa Itu Daratan Baru di Sekitar Anak Krakatau
Daryono menegaskan bentukan itu bukan "cucu Krakatau" seperti yang ramai disebut sebagian warganet. Endapan material vulkanik yang muncul ke permukaan laut inilah yang membentuk daratan menyerupai pulau kecil.
Luas daratan yang muncul mencapai lebih dari 30 hektare. Angka itu menjadikannya cukup besar untuk terlihat jelas dari rekaman udara, meski belum tentu bertahan lama.
Peran Arus dan Gelombang Laut
Dinamika arus dan gelombang laut disebut ikut memengaruhi perpindahan endapan material vulkanik tersebut. Material erosi ringan terdorong ke titik-titik perairan yang lebih tenang, sehingga endapan bisa menumpuk di lokasi tertentu.
Proses ini membuat bentuk dan luas daratan baru bisa berubah dari waktu ke waktu. Endapan yang sama bisa berpindah atau terurai tergantung kondisi perairan di sekitarnya.
Nasib Daratan Baru: Membesar atau Lenyap
Daryono menyebut endapan ini mungkin saja makin membesar atau justru lenyap kembali. Dua faktor penentunya adalah seberapa kuat aktivitas vulkanik dan seberapa besar erosi alam di perairan tersebut.
Selama Gunung Anak Krakatau masih aktif mengeluarkan material, pasokan endapan baru bisa terus bertambah. Sebaliknya, gelombang dan arus laut berpotensi mengikis endapan yang sudah ada.
Konteks Vulkanik Anak Krakatau
Gunung Anak Krakatau merupakan anak dari Krakatau yang meletus besar pada 1883. Aktivitas vulkaniknya terus berlangsung hingga kini dan kerap memunculkan perubahan bentang alam di sekitarnya.
Kemunculan daratan baru pasca erupsi bukan fenomena pertama di kawasan ini. Setiap letusan yang mengeluarkan material dalam jumlah besar berpotensi mengubah peta perairan sekitar gunung.
Rekaman drone yang viral membuat fenomena ini kembali menjadi perhatian publik. Bagi warga sekitar dan pelaku wisata bahari, pemantauan aktivitas gunung tetap menjadi acuan utama sebelum beraktivitas di perairan tersebut.