JAMBI — Kontingen Indonesia mengoleksi tujuh medali di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 hingga Senin (21/9/2026) sore, terdiri dari satu perak dan enam perunggu. Posisi ke-12 di klasemen sementara belum beranjak karena medali emas pertama masih belum diraih, sementara bonus Rp3 miliar dari Menpora Erick Thohir menanti atlet yang bisa memecah kebuntuan.
Perak tunggal putri teqball atas nama Sumaya menjadi hasil terbaik Merah Putih sejauh ini. Enam perunggu lainnya tersebar dari wushu, teqball, soft tennis, dan karate, dengan tambahan teranyar datang dari nomor changquan putri.
Eugenia Diva Widodo Sumbang Perunggu Lewat Nilai 9,706
Eugenia Diva Widodo menutup penampilannya di Aichi Prefectural Martial Arts Hall dengan total nilai 9,706 pada nomor changquan putri. Angka itu menempatkannya di posisi ketiga, di bawah Sham HYL dari Hong Kong yang meraih emas dengan 9,713 dan Sou CM dari Makau yang mengantongi perak dengan 9,710.
Selisih tipis 0,007 poin dari perak menunjukkan persaingan di nomor ini berlangsung ketat hingga penilaian terakhir. Eugenia menyatakan puas dengan hasil yang diraihnya dan menyebut medali tersebut sebagai buah dari latihan serta persiapan yang telah dijalani.
Wushu dan Teqball Jadi Penyumbang Terbanyak
Cabang wushu menyetor dua perunggu melalui Seraf Naro Siregar pada nomor changquan putra dan Eugenia Diva Widodo pada nomor changquan putri. Dari teqball, Yoga Ardika Putra menambah koleksi lewat nomor tunggal putra, melengkapi perak Sumaya di nomor tunggal putri.
Soft tennis dan karate masing-masing menyumbang satu perunggu. Satu medali perunggu lain datang dari pertandingan yang berlangsung pada Senin (21/9/2026), melengkapi total tujuh medali yang sudah dikantongi kontingen Indonesia.
Bonus Rp3 Miliar Menanti Peraih Emas Pertama
Menpora Erick Thohir memberikan suntikan motivasi kepada para atlet dengan menjanjikan bonus Rp3 miliar bagi siapa pun yang berhasil meraih emas. Dorongan itu datang di tengah paceklik emas yang membuat Indonesia tertahan di posisi ke-12 klasemen sementara.
Sejumlah nomor masih menyisakan peluang bagi atlet Merah Putih untuk memecah kebuntuan. Perburuan emas pertama menjadi sorotan utama kontingen, mengingat posisi di klasemen akan sangat ditentukan oleh jumlah emas yang dikumpulkan, bukan total medali.
Posisi ke-12 Jadi Pekerjaan Rumah Kontingen
Dengan tujuh medali tanpa emas, Indonesia masih tertinggal dari sejumlah negara Asia yang sudah membuka rekening emas. Perak dari teqball dan perunggu dari wushu, teqball, soft tennis, serta karate menjadi modal, tetapi tambahan emas tetap dibutuhkan untuk mendongkrak posisi di klasemen akhir.
Jadwal pertandingan di sejumlah cabang masih berjalan, dan peluang menambah medali tetap terbuka. Kontingen berharap tren positif dari nomor-nomor seni dan bela diri bisa berlanjut hingga emas pertama benar-benar terwujud.