Pencarian

5 Varian Sambal Khas Nusantara Selain Terasi, dari Sambal Matah Bali hingga Dabu-Dabu Manado

Kamis, 17 September 2026 • 10:01:02 WIB
5 Varian Sambal Khas Nusantara Selain Terasi, dari Sambal Matah Bali hingga Dabu-Dabu Manado

JAMBI — Bagi warga Indonesia, hidangan terasa belum lengkap tanpa sensasi pedas. Sambal terasi memang paling sering hadir, tetapi Nusantara menyimpan banyak racikan lain dengan teknik pengolahan dan bahan yang khas tiap daerah.

Perbedaan itu bukan sekadar soal tingkat kepedasan. Cara mengolah bahan, jenis cabai, hingga tambahan rempah lokal membuat tiap sambal punya watak sendiri di lidah.

1. Sambal Matah, Racikan Mentah Khas Bali

Berbeda dari kebanyakan sambal yang diulek halus, sambal matah mengandalkan bahan yang diiris tipis. Cabai rawit, bawang merah, serai, dan daun jeruk dicampur dengan sedikit terasi, lalu disiram minyak kelapa panas.

Cara penyajian itu menghasilkan tekstur renyah dengan rasa pedas dan gurih yang menyatu. Aroma serai dan daun jeruk memberi kesan wangi yang kuat, menjadikan sambal matah pas disantap bersama ayam atau ikan goreng.

2. Sambal Dabu-Dabu, Asam Pedas dari Pesisir Manado

Dapur Sulawesi Utara mengenal dabu-dabu sebagai pendamping hidangan laut. Bahan utamanya potongan cabai rawit, bawang merah, serta tomat merah dan hijau yang dicampur perasan jeruk nipis segar.

Rasa asam yang mendominasi membuat sambal ini ampuh menetralkan aroma amis pada ikan bakar atau seafood. Karena bahannya mentah, dabu-dabu sebaiknya disantap segera setelah diracik.

3. Sambal Ijo, Penyeimbang Masakan Bersantan Padang

Hidangan Minang yang kaya santan biasanya disandingkan dengan sambal ijo. Cabai hijau keriting, cabai rawit hijau, dan tomat hijau dikukus lebih dulu sebelum ditumbuk kasar.

Setelah ditumis dengan minyak kelapa dan daun jeruk, tingkat kepedasannya tergolong lebih ramah di lidah dibanding sambal merah. Aroma daun jeruk jadi penanda khas yang membuatnya mudah dikenali.

4. Sambal Roa, Pedas dengan Aroma Ikan Asap

Keistimewaan sambal asal Sulawesi Utara ini terletak pada bahan utamanya, yaitu daging ikan roa yang dikeringkan dan diasap. Ikan itu lalu dihaluskan bersama cabai dan aneka rempah pilihan.

Perpaduan pedas dan aroma smoky membuat sambal roa tidak hanya cocok jadi cocolan lauk. Sejumlah orang menyantapnya bersama pisang goreng atau nasi hangat.

5. Sambal Gandaria, Sensasi Asam dari Buah Muda

Jawa Barat dan sejumlah daerah di Sumatera memanfaatkan buah gandaria muda sebagai bahan dasar sambal ulek tradisional. Buah itu memberi rasa asam segar alami yang berbeda dari perasan jeruk.

Kejutan rasa asam di setiap suapan membuat sambal gandaria kerap jadi pilihan pendamping ikan dan sayuran rebus. Racikan ini juga bertahan lebih lama karena tidak memakai bahan mentah berair.

Mengapa Tiap Daerah Punya Sambal Berbeda

Perbedaan karakter sambal umumnya mengikuti bahan yang tersedia di tiap wilayah. Daerah pesisir cenderung memakai ikan asap dan jeruk nipis, sementara wilayah pegunungan lebih banyak mengandalkan cabai hijau serta rempah daun.

Kebiasaan makan setempat turut menentukan. Masyarakat Minang yang banyak menyantap masakan bersantan memilih sambal dengan kepedasan sedang, sedangkan warga Manado menyukai rasa asam untuk menyeimbangkan hidangan laut.

Bagi pencinta pedas, lima racikan itu bisa jadi jalan membuka cita rasa baru tanpa harus meninggalkan sambal terasi kesayangan.

Follow halojambi.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: jambiindependent.disway.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Berita Terkini

Indeks