JAMBI — Ajang Persit BISA 2 Tahun 2026 menjadi panggung bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal untuk memamerkan produk berbasis keberlanjutan. Salah satu yang menonjol adalah pemanfaatan eceng gondok yang diolah menjadi beragam barang kerajinan tangan estetik dan memiliki daya jual di pasar yang lebih luas.
Tanaman yang selama ini dianggap sebagai gulma karena pertumbuhannya yang cepat dan merusak ekosistem air, kini berubah wujud menjadi hiasan berbentuk buah-buahan dan perlengkapan dekorasi lainnya. Proses produksi yang sepenuhnya mengandalkan keterampilan tangan atau handmade memastikan setiap produk memiliki detail unik yang tidak ditemukan pada manufaktur mesin.
Dari Masalah Ekologis Menjadi Produk Estetik Bernilai Tinggi
Transformasi eceng gondok menjadi serat alam merupakan upaya nyata dalam menekan dampak negatif tanaman tersebut terhadap lingkungan. Dengan mengumpulkan dan mengolahnya, para perajin secara tidak langsung membantu menjaga kebersihan perairan sekaligus menciptakan nilai tambah ekonomi dari material yang sebelumnya tidak berharga.
Ajang Persit BISA 2 dinilai sebagai platform strategis bagi pelaku UMKM untuk memperluas jangkauan pasar. Kehadiran produk ini membuktikan bahwa inovasi lokal mampu bersaing melalui pendekatan ramah lingkungan yang kini tengah menjadi tren global di sektor industri kreatif.
Target Pemberdayaan Ekonomi dan Kesadaran Lingkungan
Pengelola usaha, Ny. Rike, menjelaskan bahwa partisipasi dalam pameran ini membawa misi yang lebih besar daripada sekadar transaksi perdagangan. Fokus utama yang diusung adalah edukasi mengenai pentingnya penggunaan produk hijau yang mendukung kelestarian alam dalam jangka panjang.
“Kami ingin memberdayakan masyarakat lokal dan membangun perekonomian yang mandiri,” ujar Ny. Rike saat menjelaskan visi usahanya di lokasi pameran.
Selain dampak lingkungan, produksi kerajinan ini mampu menyerap tenaga kerja dari warga sekitar. Hal ini memberikan dampak sosial positif, di mana kemandirian ekonomi masyarakat dapat terbangun melalui pemanfaatan potensi alam yang ada di lingkungan terdekat mereka. Melalui inovasi ini, eceng gondok tidak lagi dipandang sebagai beban lingkungan, melainkan sumber penghidupan baru bagi masyarakat Jambi.