JAMBI — PT Kereta Api Indonesia (Persero) mengangkut 50.756.132 ton barang sepanjang Januari–September 2026, terdiri atas 41.607.561 ton batu bara dan 9.148.571 ton nonbatu bara. Angkutan nonbatu bara naik 2,65 persen dari 8.912.566 ton pada periode sama 2025, ditopang lonjakan petikemas 19,57 persen. Kenaikan ini menegaskan peran kereta sebagai tulang punggung distribusi industri dan kebutuhan masyarakat.
Paragraf pembuka: Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menyebut kebutuhan angkutan barang berkaitan langsung dengan denyut ekonomi di berbagai daerah. Arus bahan baku industri, hasil produksi, hingga komoditas perdagangan dan kebutuhan masyarakat bergerak melalui jaringan kereta yang terhubung dengan pusat-pusat kegiatan ekonomi.
Komoditas nonbatu bara menyumbang 18,02 persen dari total volume angkutan barang KAI. Dari kelompok itu, angkutan petikemas mencapai 4.438.999 ton atau setara 48,52 persen, dengan kenaikan 19,57 persen dibandingkan Januari–September 2025.
Selain petikemas, KAI melayani bahan bakar minyak, semen dan klinker, hasil perkebunan, pupuk, serta barang retail. Setiap komoditas punya kebutuhan pengiriman berbeda, baik dari sisi volume, lokasi tujuan, maupun fasilitas penanganannya.
Keragaman itu menjadi dasar pengembangan layanan logistik yang mengikuti kebutuhan pelanggan industri dan perdagangan. Penambahan 236.005 ton pada segmen nonbatu bara menunjukkan permintaan yang tetap tumbuh meski volume batu bara masih mendominasi total angkutan.
Anne menyoroti tantangan utama distribusi barang, yakni keterhubungan antartahapan perjalanan. Barang yang diangkut kereta tetap membutuhkan dukungan terminal, kawasan pergudangan, dan transportasi lanjutan untuk sampai ke penerima.
"Setiap komoditas mempunyai perjalanan yang berbeda. Ada barang yang dibutuhkan untuk menjaga kegiatan pabrik, ada hasil produksi yang harus dikirim ke pusat distribusi, dan ada kebutuhan masyarakat yang bergantung pada kelancaran pasokan. KAI melayani bagian dari perjalanan tersebut melalui jaringan kereta api yang terhubung dengan berbagai kegiatan ekonomi," kata Anne, Rabu (21/10/2026) malam.
Karena itu, pengembangan logistik berbasis rel perlu berjalan bersama kerja sama antarpelaku usaha dan pengelola infrastruktur. Kereta mampu mengangkut muatan besar dalam satu rangkaian, sementara transportasi lanjutan membantu menjangkau lokasi di luar jaringan rel.
Bagi pelaku usaha, kepastian distribusi menjadi modal untuk merencanakan produksi dan pengiriman. Keterhubungan antarmoda membuka pilihan bagi industri dalam mengatur rantai pasoknya, terutama untuk komoditas yang butuh pergerakan volume besar secara rutin.
Dalam jangka panjang, pengembangan infrastruktur logistik berkaitan dengan efisiensi biaya distribusi dan pemanfaatan energi. Kereta api untuk pengiriman berkapasitas besar dapat menjadi pilihan merancang jaringan angkutan yang lebih efisien, bergantung pada jarak, jenis komoditas, kapasitas muatan, dan kondisi distribusi di masing-masing koridor.
Manfaat itu semakin relevan ketika pelaku usaha harus menimbang produktivitas sekaligus dampak lingkungan. "Kami berharap penguatan konektivitas ini memberi lebih banyak pilihan distribusi bagi pelaku usaha serta mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia secara berkelanjutan," tutur Anne.
Penutup: Dengan 50,7 juta ton barang terangkut hingga September, KAI mempertahankan posisinya sebagai salah satu simpul logistik utama nasional. Pertumbuhan segmen nonbatu bara, terutama petikemas, menjadi sinyal bahwa layanan kereta kian diperhitungkan di luar komoditas tambang.