Review Film Memburu Pemangsa: Horor Kriminal Umay Shahab yang Kompleks

Penulis: Amrizal Halim  •  Minggu, 27 September 2026 | 20:05:31 WIB
Film "Memburu Pemangsa" resmi tayang di bioskop Indonesia dengan menggabungkan elemen horor, kriminal, aksi, dan thriller.

JAMBI — Film "Memburu Pemangsa" resmi tayang di bioskop Indonesia dengan menggabungkan elemen horor, kriminal, aksi, dan thriller dalam satu narasi pemburuan predator anak. Sutradara Umay Shahab bekerja sama dengan penulis naskah Rezi Junio menghadirkan kisah investigasi jurnalistik yang dibumbui teror demonologi. Teuku Rifnu Wikana tampil sebagai antagonis utama, didampingi Laura Basuki, Prilly Latuconsina, Yasamin Jasem, dan Taskya Namya.

Umay Shahab kembali duduk di kursi sutradara lewat "Memburu Pemangsa", film yang mencoba membangun identitasnya sendiri di tengah banjir produksi horor Tanah Air. Alih-alih mengandalkan jumpscare semata, film ini memilih jalur investigasi kriminal dengan latar pemburuan predator anak.

Pendekatan itu terasa sejak menit awal. Penonton diajak mengikuti jejak para jurnalis yang menelusuri kasus penculikan, pembunuhan, hingga mutilasi yang dilakukan Sang Pemangsa. Ketegangan dibangun perlahan lewat petunjuk demi petunjuk yang disebar sepanjang cerita.

Sinopsis Singkat: Jurnalis vs Predator Anak

Naskah yang ditulis Rezi Junio dan Umay Shahab berpusat pada sekelompok jurnalis yang mengejar kasus kriminal terhadap anak-anak. Agnes (Laura Basuki), Cia (Prilly Latuconsina), Anya (Yasamin Jasem), dan Brina (Taskya Namya) menjadi empat karakter pemburu yang memandu jalannya cerita.

Mereka tidak digambarkan sebagai pahlawan tanpa cela. Konflik dan perseteruan antar karakter diselipkan di sela proses investigasi, membuat pemahaman penonton atas kasus ini terasa lebih utuh. Dinamika keempatnya menjadi salah satu kekuatan film.

Di sisi lain, Sang Pemangsa diperankan Teuku Rifnu Wikana. Karakter ini bukan sekadar sosok menyeramkan, tapi juga meninggalkan kesan mengerikan yang menembus layar.

Kekuatan: Narasi Investigasi dan Para Pemain

Rezi dan Umay tidak terburu-buru membuka kedok pelaku. Pilihan itu membuat penonton punya ruang berekspektasi soal kapan identitas Sang Pemangsa bakal terbongkar. Proses penelusuran inilah yang membuat gagasan ceritanya menarik untuk diikuti.

Rifnu mulus mengeksekusi tuntutan sebagai antagonis utama. Aura mengancamnya terasa konsisten. Sementara itu, Laura, Prilly, Yasamin, dan Taskya lancar memandu jalannya cerita dengan komposisi peran yang terbilang pas.

Dari sisi teknis, Teguh Raharjo sebagai editor mampu menyusun potongan adegan investigasi jurnalistik hingga pertarungan sehingga ketegangan tetap terjaga. Keputusan Umay dan sinematografer Amalia T.S menggunakan mode video recorder untuk konsep raw video juga memberi kesan lebih dekat dan intens.

Farhan Setyawan sebagai property master bersama Okie Yoga Pratama sebagai production designer turut memanjakan mata. Detail elemen demonologi hingga peralatan dunia jurnalistik yang ditampilkan terasa diperhatikan.

Catatan Kekurangan: Momen Puncak yang Kurang Menghentak

Sayangnya, Umay agak kedodoran menjaga alur di bagian pengungkapan identitas Sang Pemangsa. Momen yang mestinya jadi puncak pencarian justru terasa datar. Reaksi dan situasinya tidak memberikan hentakan yang sepadan dengan adrenalin yang sudah dipupuk sejak awal.

Beberapa adegan pertarungan melawan Sang Pemangsa juga menyisakan ganjalan. Gerakan antarkarakter kurang mengalir dan koreografi belum sepenuhnya meyakinkan. Intensitas yang mestinya muncul saat dua kubu bertemu jadi tertahan.

Amalia dan Teguh juga tampak belum menemukan pendekatan visual yang meyakinkan untuk adegan tertentu, misalnya saat Agnes menggunakan kemampuan indra keenamnya.

Pesan Sosial di Balik Teror

Di tengah segala keriuhan elemennya, "Memburu Pemangsa" masih menyempatkan diri membawa pesan moral dan sosial. Persoalan penculikan anak di Indonesia dibawa serius tanpa meninggalkan tujuan komersial dan hiburan.

Formula itu membuat film ini, terlepas dari kekurangannya, tampil sebagai karya yang kompleks sekaligus segar. Identitasnya yang khas menjadi pembeda di tengah industri film Indonesia yang sedang ramai dengan cerita horor.

Reporter: Amrizal Halim
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top