SUNGAI GELAM — Wakil Kepala Madrasah Bidang Kurikulum MAN 1 Muaro Jambi, Suratno, turut hadir mendampingi siswa selama kegiatan berlangsung. Ia menilai praktik langsung di lapangan membuat pemahaman materi yang diperoleh di kelas menjadi lebih bermakna.
Kegiatan kokurikuler yang digelar di halaman belakang madrasah ini diikuti seluruh siswa kelas X, XI, dan XII. Masing-masing tingkat kelas mendapat jenis tanaman berbeda untuk digarap.
Pembagian jenis tanaman disesuaikan dengan tingkat kelas siswa. Kelas X menanam terong, kelas XI menanam jagung, dan kelas XII menanam kacang panjang.
Para siswa tampak antusias mengikuti rangkaian kegiatan sejak awal hingga akhir. Mereka bekerja sama menyiapkan lahan, menanam bibit, lalu menyiram tanaman yang baru dipindahkan ke media tanam.
Suratno menjelaskan bahwa tujuan utama kegiatan kokurikuler adalah memperkaya pengalaman belajar siswa. Menurutnya, pembelajaran tidak cukup dilakukan secara teoritis di dalam kelas.
"Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mempraktikkannya secara nyata," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kegiatan ini juga melatih keterampilan sosial dan kreativitas siswa. Pembelajaran di luar kelas dinilai memberikan kesan yang lebih mendalam dan diharapkan meningkatkan motivasi belajar.
Salah satu siswa kelas XII, Habibi, mengaku sangat bersemangat mengikuti kegiatan tersebut. Ia menyebut kegiatan menanam memberikan pengalaman baru baginya.
"Saya jadi tahu cara menanam kacang panjang dengan benar," katanya.
Habibi merasa kegiatan ini berbeda dari pembelajaran di kelas. Menurutnya, belajar di alam terbuka lebih menyenangkan dan tidak membosankan.
Nilai-nilai seperti kerja keras, tanggung jawab, dan kepedulian lingkungan ditanamkan melalui kegiatan ini. Siswa juga dilatih menghargai proses dan hasil kerja, mulai dari menyiapkan lahan hingga merawat tanaman.
Suasana kegiatan terasa hidup sepanjang pagi. Canda dan tawa terdengar di sela-sela aktivitas siswa, menandakan mereka menikmati proses belajar di luar ruangan.
Madrasah berharap kegiatan serupa dapat terus dikembangkan. Pendekatan kontekstual semacam ini membuktikan bahwa belajar tidak harus selalu dilakukan di dalam kelas.