JAMBI — Upacara adat Jambi yang masih dilestarikan menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat di provinsi yang berada di pesisir timur Sumatra ini. Tradisi tersebut tidak hanya berupa rangkaian acara seremonial, tetapi juga menjadi ruang untuk menyampaikan nilai, menjaga hubungan kekerabatan, dan meneruskan pengetahuan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Salah satu contoh paling kuat adalah Kenduri Sko di wilayah Kerinci dan Sungai Penuh yang hingga kini masih dijalankan sebagai bagian dari kehidupan adat. Beragam upacara adat Jambi yang masih dilestarikan menunjukkan bahwa perubahan zaman tidak selalu menghapus tradisi, selama masyarakat masih menemukan makna di dalamnya.
Tradisi Jambi memiliki bentuk yang beragam karena setiap wilayah tumbuh dengan sejarah dan lingkungan sosial yang berbeda. Kerinci, Sungai Penuh, pesisir timur, hingga kawasan Batanghari memiliki tradisi yang tidak selalu sama.
Beberapa tradisi yang menarik untuk dikenali antara lain:
Kenduri Sko merupakan salah satu tradisi adat paling kuat yang masih hidup di wilayah Kerinci dan Sungai Penuh. Tradisi ini berkaitan dengan pengukuhan gelar adat, penghormatan terhadap pusaka, rasa syukur atas hasil bumi, serta penguatan hubungan sosial masyarakat.
Kenduri Sko telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia melalui SK Nomor 264/M/2018 dalam domain adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan. Dalam pelaksanaannya, terdapat beberapa tahapan yang saling berkaitan, mulai dari musyawarah adat hingga kegiatan kenduri.
Di Desa Air Hitam Laut, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, terdapat tradisi Mandi Safar yang dilaksanakan pada Rabu terakhir bulan Safar. Penelitian akademik mengenai tradisi ini mencatat bahwa Mandi Safar masih hidup dalam masyarakat setempat dan memiliki fungsi sosial sekaligus nilai budaya.
Tradisi ini kerap dipahami sebagai ritual tolak bala. Namun, maknanya tidak berhenti pada aspek ritual. Mandi Safar juga menjadi momentum berkumpulnya masyarakat dan memperkuat hubungan sosial.
Di sejumlah komunitas Melayu Jambi juga dikenal berbagai tradisi yang berhubungan dengan kelahiran, perkawinan, kematian, dan kehidupan bermasyarakat. Bentuk serta istilahnya dapat berbeda antardaerah karena tradisi berkembang berdasarkan adat setempat.
Karena itu, pencarian mengenai budaya Jambi sebaiknya tidak menganggap seluruh masyarakat Jambi memiliki satu bentuk adat yang seragam.
Kenduri Sko memperlihatkan bagaimana sebuah tradisi dapat berfungsi sekaligus sebagai ritual, sistem sosial, dan sarana pendidikan budaya. Tradisi ini tidak sekadar mempertontonkan benda pusaka, tetapi juga menyampaikan aturan serta nilai yang mengatur hubungan masyarakat.
Penelitian mengenai Kenduri Sko masyarakat Kerinci menunjukkan bahwa tradisi tersebut memiliki fungsi sebagai pengukuhan gelar adat, sistem nilai kolektif, sarana pendidikan bagi generasi penerus, serta kontrol sosial.
Dalam konteks masyarakat Kerinci, sko berkaitan dengan pusaka atau warisan adat. Pusaka tersebut tidak selalu berbentuk benda.
Pusaka dapat berupa:
Karena itu, Kenduri Sko pada dasarnya berbicara tentang kesinambungan warisan masyarakat.
Rangkaian dapat berbeda menurut wilayah adat, tetapi secara umum terdapat sejumlah tahapan penting.
Sumber Indonesia Travel juga menjelaskan bahwa pelaksanaan Kenduri Sko dapat mencakup pembersihan benda pusaka, pengukuhan pemangku adat, pidato adat, kesenian, dan makan bersama.
Benda pusaka menjadi salah satu bagian yang menarik karena menyimpan hubungan antara sejarah keluarga, adat, dan identitas masyarakat. Pusaka dapat berupa keris, tombak, pedang, tameng, naskah, maupun benda lain yang diwariskan oleh leluhur.
Dalam penelitian Universitas Jambi, tumbuhan tertentu juga ditemukan memiliki fungsi dan simbol dalam rangkaian Kenduri Sko, termasuk berkaitan dengan proses pembersihan pusaka. Namun, nilai utama pusaka bukan sekadar usia atau bentuk fisiknya.
Pusaka menjadi penting karena di dalamnya terdapat cerita tentang:
Di sinilah tradisi menjadi lebih dari sekadar pertunjukan budaya.
Tidak terdapat satu jadwal tahunan yang berlaku seragam untuk seluruh wilayah Kerinci dan Sungai Penuh. Waktu pelaksanaan dapat berbeda sesuai kesepakatan masyarakat adat dan kebutuhan masing-masing wilayah.
Sejumlah sumber menjelaskan bahwa Kenduri Sko secara umum dapat berlangsung dalam rentang beberapa tahun, sementara praktik di daerah tertentu memiliki pola yang berbeda. Penelitian etnografi mengenai masyarakat Kerinci mencatat pelaksanaan setiap lima tahun dalam konteks yang diteliti. UUdayana Journal System.
Pada 2026, misalnya, Kenduri Sko Enam Luhah Sungai Penuh kembali digelar di Tanah Mendapo. Pemerintah Provinsi Jambi memberikan apresiasi terhadap keberlanjutan tradisi tersebut sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat.
Karena jadwal bergantung pada wilayah adat, informasi terbaik bagi calon pengunjung adalah mencari pengumuman dari pemerintah daerah, lembaga adat, atau masyarakat setempat menjelang periode pelaksanaan.
Bagi yang tertarik menjadikan tradisi adat sebagai tujuan wisata budaya, ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan.
Tradisi tidak bertahan hanya karena ada upacara yang dilakukan berulang-ulang. Tradisi bertahan karena generasi berikutnya memahami alasan di balik pelaksanaannya.
Kenduri Sko, misalnya, bukan hanya kegiatan untuk membersihkan pusaka. Di dalamnya terdapat proses regenerasi kepemimpinan adat, penyampaian petuah, pertemuan keluarga, dan penguatan identitas kolektif. Kajian tentang Kenduri Sko juga menempatkan tradisi lisan sebagai bagian penting dari pewarisan nilai masyarakat Kerinci.
Pelestarian dapat dilakukan melalui:
Generasi muda tidak harus hidup dengan cara yang sama seperti generasi terdahulu. Yang lebih penting adalah memahami nilai yang diwariskan dan menemukan cara baru untuk menjaganya.
Kenduri Sko merupakan salah satu tradisi yang sangat dikenal dari masyarakat Kerinci dan Sungai Penuh. Tradisi ini berkaitan dengan pusaka, gelar adat, rasa syukur, dan kehidupan sosial masyarakat.
Pada prinsipnya kegiatan yang terbuka untuk umum dapat disaksikan, tetapi akses ke bagian tertentu mengikuti aturan masyarakat adat. Izin dan penghormatan terhadap ketentuan lokal tetap menjadi hal utama.
Ya. Kajian akademik terbaru mengenai masyarakat Desa Air Hitam Laut mencatat bahwa Mandi Safar masih dilaksanakan pada Rabu terakhir bulan Safar.
Tidak. Jambi memiliki keragaman masyarakat dan wilayah budaya sehingga bentuk tradisi, istilah, prosesi, serta waktu pelaksanaannya dapat berbeda.
Warisan budaya tidak hidup di museum saja. Ia hidup ketika masyarakat masih mengingat maknanya, menjalankan nilainya, dan mengajarkannya kepada generasi berikutnya. Dari Kerinci hingga pesisir timur, upacara adat Jambi yang masih dilestarikan memperlihatkan bahwa akar budaya dapat tetap kuat meski zaman terus berubah.