JAMBI — Angka itu bukan sekadar klaim. Bangladesh, Pakistan, dan Hong Kong ikut ambil bagian, sehingga siaran pertandingan menyebar ke wilayah yang jauh melampaui Asia Tenggara. Di Indonesia sendiri, hak siar resmi dipegang Emtek Media.
FIFA ASEAN Cup 2026 dibagi dua divisi. Indonesia menjadi tuan rumah divisi 1 yang diikuti delapan negara: Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, Filipina, serta dua tamu dari luar kawasan, Bangladesh dan Pakistan.
Divisi 2 digelar di Hong Kong dengan peserta Hong Kong, Myanmar, Laos, Kamboja, Timor-Leste, dan Brunei Darussalam. Pembagian ini menempatkan Indonesia di grup utama sekaligus memberi bobot kompetisi yang lebih berat.
Bagi Indonesia, ini bukan pertama kalinya dipercaya FIFA. Sebelumnya, Indonesia sukses menggelar Piala Dunia U-17 dan FIFA Series. Dua pengalaman itu menjadi modal penting untuk meyakinkan FIFA bahwa infrastruktur dan manajemen pertandingan siap.
Erick menjelaskan, FIFA kini mendorong lebih banyak kompetisi yang memberi manfaat langsung bagi federasi anggotanya. Kompetisi yang kuat diyakini mampu memperbaiki kondisi finansial federasi sekaligus mendukung pembinaan tim nasional.
"Jangan sampai federasi dan timnas ini menjadi tertutup potensinya dengan persaingan dan ekonomi sepak bola secara menyeluruh, di mana di banyak negara sekarang ini lahir tim-tim super dan banyak juga liga yang sangat besar, yang akhirnya perkembangan tim nasional di banyak negara menjadi dinomorduakan," ujar Erick dalam konferensi pers di SCTV Tower, Senayan City, Jakarta Pusat, Senin (14/9).
FIFA sebelumnya menggulirkan FIFA Arab Cup pada 2021, mempertemukan negara Timur Tengah dengan sejumlah peserta dari zona Afrika. Konsep serupa kini diterapkan untuk Asia Tenggara.
"Nah, FIFA ASEAN Cup tujuannya sama. Lewat FIFA ASEAN Cup, FIFA ingin mulai melakukan benchmark negara-negara di kawasan Asia Tenggara dan di luar wilayah itu supaya kompetisinya juga kompetitif," jelas Erick.
PSSI memusatkan persiapan di dua kota penyelenggara: Jakarta dan Bandung. Sosialisasi digencarkan bersama pemerintah daerah setempat untuk membangun antusiasme warga. Agenda trophy tour juga berjalan memperkenalkan trofi FIFA ASEAN Cup 2026 ke publik.
Di luar lapangan, PSSI menyiapkan Fans Zone di sekitar stadion yang telah mendapat restu FIFA. Area ini dirancang sebagai ruang perkenalan budaya Indonesia lewat musik, kuliner, dan berbagai kegiatan bagi penonton dalam maupun luar negeri.
"Ini kesempatan untuk ikut mengenalkan budaya kita, musik kita, makanan kita juga. Mudah-mudahan ini menjadi hype, sehingga penonton tidak hanya mendapat hiburan sepak bola, tetapi juga pengalaman musik, budaya, dan kuliner Indonesia yang terkenal," kata Erick.
Dengan jangkauan penonton sebesar itu, FIFA ASEAN Cup 2026 diproyeksikan menggerakkan sektor olahraga, pariwisata, hiburan, dan ekonomi kreatif di kedua kota. Gelaran ini juga menjadi panggung promosi Indonesia di mata dunia.
Bagi PSSI, turnamen ini menjadi tolok ukur kesiapan Indonesia sebagai tuan rumah event sepak bola berskala internasional. Jika sukses, posisi Indonesia di kancah sepak bola Asia Tenggara maupun global berpotensi semakin kuat.