Muaro Jambi Dikepung 285 Titik Panas Hingga 22 Agustus, BMKG Sebut Curah Hujan di Bawah Normal

Penulis: Tengku Syafri  •  Senin, 24 Agustus 2026 | 18:19:31 WIB
Sebanyak 285 titik panas terpantau satelit BMKG di Kabupaten Muaro Jambi hingga 22 Agustus 2026.

MUARO JAMBI — Ribuan hektare lahan di Kabupaten Muaro Jambi terancam terdampak kebakaran menyusul tingginya jumlah titik panas yang terpantau satelit BMKG. Data terbaru menunjukkan angka 285 hotspot dalam kurun waktu 22 hari saja, sebuah sinyal kuat bahwa musim kemarau tahun ini berpotensi memicu bencana asap yang lebih luas.

Jumlah tersebut menempatkan Muaro Jambi di posisi kedua terbanyak di Jambi, hanya kalah dari Kabupaten Sarolangun yang mencatat 406 titik. Sementara itu, Kabupaten Tebo menyusul di urutan ketiga dengan 241 titik panas pada periode yang sama.

Lonjakan Drastis Sejak Juli, 710 Titik Sepanjang 2026

Fenomena ini bukan sekadar angka musiman. Ketua Tim Data dan Informasi BMKG Jambi, Jaya Martuah Sinaga, mengungkapkan bahwa peningkatan jumlah hotspot mulai terlihat jelas sejak Juli lalu.

"Mulai mengalami kenaikan yang cukup signifikan di bulan Juli dan Agustus tahun ini," kata Jaya, Minggu (23/8) siang.

Akumulasi titik panas di Muaro Jambi sepanjang Januari hingga 22 Agustus 2026 bahkan telah menembus angka 710. Catatan ini menjadikan Muaro Jambi sebagai wilayah dengan total hotspot tertinggi ketiga di Provinsi Jambi, di belakang Sarolangun dengan 759 titik dan Tanjung Jabung Barat dengan 719 titik.

85 Persen Wilayah Diguyur Hujan di Bawah 50 Milimeter

BMKG Jambi menjelaskan bahwa peningkatan titik panas ini berbanding lurus dengan kondisi kekeringan yang ekstrem. Sebagian besar wilayah Muaro Jambi kini berada dalam fase musim kemarau yang jauh dari kata normal.

"Di Kabupaten Muaro Jambi ini merupakan musim kemarau di bawah normal. Kenapa di bawah normal, karena 85 persen itu hujannya di bawah 50 milimeter," sampainya.

Kondisi curah hujan yang minim tersebut membuat lahan gambut dan semak belukar menjadi sangat kering serta mudah terbakar. Meski BMKG belum merilis data pasti mengenai luas lahan terdampak, potensi penyebaran api ke area perkebunan dan permukiman warga dinilai tinggi jika tidak segera diantisipasi.

Mengapa Titik Panas di Muaro Jambi Perlu Diwaspadai

Berbeda dengan Provinsi Jambi bagian barat yang cenderung lebih basah, Muaro Jambi memiliki karakteristik lahan yang didominasi rawa dan gambut. Ketika musim kemarau tiba, lapisan gambut yang mengering menjadi bahan bakar utama yang membuat api sulit dipadamkan, bahkan bisa bertahan di bawah permukaan tanah.

Data BMKG ini menjadi peringatan dini bagi pemerintah daerah dan masyarakat. Jika tren ini terus berlanjut hingga akhir Agustus, bukan tidak mungkin Muaro Jambi akan menyusul rekor titik panas tahun-tahun sebelumnya yang kerap memicu kabut asap tebal melintasi Jambi dan sekitarnya.

Masyarakat diimbau untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, mengingat sanksi hukum tegas menanti serta dampak asap yang merugikan kesehatan. Pemerintah kabupaten pun diharapkan segera mengaktifkan posko siaga karhutla dan memastikan kesiapan personel di lapangan.

Reporter: Tengku Syafri
Sumber: jambiekspres.disway.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top