JAMBI — Land Rover meminjamkan The Drive unit Range Rover SE PHEV 2025 selama sepekan. Hasilnya? SUV seharga Rp 2,1 miliar (estimasi kurs Rp 16.000 dari harga AS $131.350) ini adalah paradoks berjalan: luar biasa di satu sisi, mengganggu di sisi lain.
Jangan tertipu dimensi bak benteng. Range Rover SE PHEV menggendong mesin 3.0-liter inline-six, motor listrik, dan baterai 38,2 kWh. Total tenaga mencapai 543 hp dan torsi 590 lb-ft — cukup untuk akselerasi 0-100 km/jam dalam 4,8 detik.
Yang membuat terkesima bukan angka itu, melainkan eksekusinya. Saat pedal gas diinjak, motor listrik langsung memberikan torsi instan. Transisi ke mesin bensin terjadi begitu mulus sehingga satu-satunya tanda hanyalah suara dengung tinggi yang teredam sempurna. Di jalan tol, kecepatan 130 km/jam terasa seperti 90 km/jam. Ini adalah pengalaman "terbang rendah" yang nyata.
Range Rover tetap setia pada DNA petualangnya. Ground clearance standar 8,6 inci bisa membengkak menjadi 11,5 inci di mode off-road, dengan sudut approach 34,7 derajat. Suspensi udara adaptif dan rear-wheel steering membuat manuver di jalan sempit terasa ringan — sesuatu yang mustahil dilakukan SUV sebesar ini.
Di jalan aspal, Dynamic Response Pro dengan anti-roll bar elektronik bekerja diam-diam. Bodinya nyaris tidak bergoyang saat menikung, memberikan rasa percaya diri yang langka untuk kendaraan seberat 2.700 kg.
Di sinilah kritik tajam dialamatkan. Land Rover memilih desain dasbor yang sangat bersih — mungkin terlalu bersih. Semua kontrol iklim fisik lenyap sejak model tahun 2024, digantikan layar sentuh besar yang menangani hampir semua fungsi.
Masalahnya, sistem infotainment Pixi milik Land Rover terasa lamban. Responsnya tidak instan, dan antarmuka grafisnya biasa saja. Area yang dulunya berisi kenop mode berkendara kini kosong melompong. "Hasilnya terasa belum selesai," tulis jurnalis Adam Ismail dalam review-nya. Untuk mobil seharga ini, ketiadaan fitur pijat kursi (hanya tersedia di trim Autobiography $160.000) juga terasa pelit.
Dalam mode hybrid, konsumsi BBM tercatat sekitar 33 mil per galon (14 km/liter) di jalan tol — angka solid untuk SUV raksasa. Sayangnya, baterai 38,2 kWh hanya mendukung pengisian AC maksimal 7 kW. Butuh waktu sekitar lima jam untuk mengisi penuh dari terminal Level 2. Tidak ada dukungan DC fast charging, yang berarti pengisian cepat di perjalanan jauh bukanlah opsi.
Range Rover SE PHEV 2025 adalah kendaraan yang secara teknis sempurna: nyaman, bertenaga, dan mampu melibas apa pun. Namun, keputusan desain interior yang terlalu asketis dan sistem infotainment yang lamban membuatnya terasa hampa — seperti istana mewah tanpa perabot. Dengan banderol yang bersaing ketat dengan BMW XM atau Mercedes GLS, calon pembeli di Indonesia mungkin perlu bertanya: apakah kemewahan sejati cukup hanya dari performa, atau harus terasa dari setiap sentuhan tombol?